Mereka tidak sedang menawarkan dunia yang dipimpin oleh Indonesia atau Prancis. Mereka menawarkan dunia yang lebih seimbang.
Dunia multipolar. Dunia di mana banyak pusat kekuatan hidup berdampingan. Dunia di mana India, Indonesia, Brasil, Prancis, Jepang, Uni Eropa, negara-negara Afrika, dan berbagai kekuatan menengah lainnya memiliki suara yang lebih besar.
Dalam dunia seperti itu, diplomasi menjadi lebih penting daripada ancaman. Kerja sama menjadi lebih penting daripada tekanan.
Dialog menjadi lebih penting daripada ultimatum. Konsep ini mungkin terdengar idealistis.
Namun sejarah menunjukkan bahwa keseimbangan sering lebih stabil daripada dominasi.
Karena ketika tidak ada satu kekuatan yang terlalu besar, semua pihak dipaksa untuk mendengar satu sama lain.
Dan mungkin, masa depan perdamaian dunia tidak terletak pada siapa yang paling kuat. Melainkan pada siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan.
Ketiga: Kedaulatan adalah nilai tertinggi abad ke-21
Ada satu kata yang berulang kali muncul dalam berbagai percakapan strategis yang saya ikuti beberapa tahun terakhir.
Kata itu adalah: kedaulatan. Dahulu banyak orang mengira globalisasi akan membuat batas-batas negara semakin tidak penting.
Modal bergerak bebas. Barang bergerak bebas. Data bergerak bebas. Dunia terasa semakin menyatu.
Namun pandemi COVID-19 mengubah cara kita melihat dunia. Perang Ukraina mempercepat perubahan itu. Krisis energi menegaskannya.
Dan revolusi kecerdasan buatan memperlihatkan betapa berbahayanya ketergantungan teknologi. Tiba-tiba semua negara mulai bertanya:
Apakah kita mampu memberi makan rakyat sendiri? Apakah kita mampu menghasilkan energi sendiri?
Apakah kita mampu membangun teknologi sendiri? Apakah kita mampu mempertahankan diri sendiri?
Artikel Terkait
3 Klub Sepak Bola Elite di Liga 1 Super League Musim Depan, Salah Satunya Didirikan Oleh Prabowo Subianto
2027: Tahun Penentu Prabowo Subianto Satu Atau Dua Periode
FWK Minta Presiden Prabowo Subianto Redam Kenaikan Harga Pangan Yang Telah Menjepit Masyarakat
Pidato Presiden Prabowo Subianto, deklarasi ekonomi baru, dan kisah negara kaya tetapi bocor
Gerakan Mahasiswa Hidayatulah Dukung Presiden Prabowo Subianto Menguatkan Peran Negara Dalam Ekonomi