Kedaulatan bukan lagi slogan politik.
Ia berubah menjadi kebutuhan praktis.
Ketika Macron berbicara mengenai dukungan terhadap agenda kedaulatan Indonesia, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada kerja sama ekonomi.
Saya melihat pengakuan bahwa bangsa-bangsa modern membutuhkan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.
Tentu tidak ada negara yang bisa hidup sendirian. Namun ada perbedaan besar antara bekerja sama dan bergantung.
Bekerja sama adalah pilihan. Bergantung adalah kerentanan.
Dan dalam dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan bekerja sama tanpa kehilangan kemandirian mungkin akan menjadi aset paling berharga sebuah bangsa.
Keempat: Kemitraan strategis harus menyentuh pertahanan, teknologi, dan sumber daya manusia
Di abad ke-19, kekuatan sebuah negara diukur dari luas wilayahnya.
Di abad ke-20, kekuatan diukur dari kapasitas industrinya. Namun di abad ke-21, ukuran itu berubah.
Hari ini, negara paling berpengaruh bukan selalu negara yang memiliki wilayah terbesar. Melainkan negara yang menguasai teknologi paling maju.
Yang menguasai data. Yang menguasai inovasi. Yang menguasai kecerdasan buatan.
Oleh karena itu, saya tertarik ketika Macron dan Prabowo sama-sama menekankan pendidikan, riset, sains, teknologi, dan inovasi.
Hubungan Indonesia dan Prancis tidak boleh berhenti pada pembelian pesawat tempur atau kontrak industri. Hubungan itu harus masuk ke laboratorium.
Masuk ke kampus. Masuk ke pusat riset. Masuk ke ruang kelas. Masuk ke pikiran generasi muda.
Artikel Terkait
3 Klub Sepak Bola Elite di Liga 1 Super League Musim Depan, Salah Satunya Didirikan Oleh Prabowo Subianto
2027: Tahun Penentu Prabowo Subianto Satu Atau Dua Periode
FWK Minta Presiden Prabowo Subianto Redam Kenaikan Harga Pangan Yang Telah Menjepit Masyarakat
Pidato Presiden Prabowo Subianto, deklarasi ekonomi baru, dan kisah negara kaya tetapi bocor
Gerakan Mahasiswa Hidayatulah Dukung Presiden Prabowo Subianto Menguatkan Peran Negara Dalam Ekonomi