Dibangun pada awal abad ke-18, Elysee telah menyaksikan naik turunnya kekaisaran, revolusi, perang dunia, dan lahirnya Eropa modern.
Dari ruangan-ruangan inilah banyak keputusan yang memengaruhi arah sejarah dunia pernah dibuat. Namun malam itu perhatian saya tidak hanya tertuju pada para pemimpin yang hadir.
Di salah satu sudut ruangan berdiri Orkestra Garda Republik Prancis, unit militer elite yang bertugas menjaga Presiden Prancis. Mereka datang dengan seragam militer, tetapi yang mereka bawa bukan senapan. Mereka membawa biola, klarinet, dan cello.
Musik Mozart mengalun lembut.
Lalu karya Debussy yang terinspirasi gamelan Jawa memenuhi ruangan. Ketika lagu Bengawan Solo dimainkan, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Di jantung Paris, di pusat kekuasaan Republik Prancis, sebuah lagu dari tepi Sungai Bengawan mengalun dengan khidmat.
Seolah sejarah sedang berbisik bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh kontrak, senjata, atau perdagangan.
Kadang ia dibangun oleh sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih kuat: rasa hormat terhadap jiwa satu sama lain.
Dan di tengah alunan musik itulah saya mendengar dua pidato yang menurut saya akan dikenang jauh melampaui malam itu sendiri. Mereka bukan sekadar pidato tentang Indonesia dan Prancis. Mereka adalah pidato tentang dunia yang sedang mencari bentuk barunya.
Lama saya merenungkan baik pidato Presiden Perancis Macron dan Presiden Indonesia Prabowo. Saya menemukan enam gagasan penting yang mereka bicarakan.
Pertama: Petingnya jalan ketiga, menolak menjadi satelit kekuatan besar
Ketika Presiden Prancis, Emmanuel Jean-Michel Frederic Macron, berbicara mengenai pentingnya negara-negara yang mampu menjaga kemandirian strategisnya, dan ketika Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang perlunya keseimbangan dunia, saya merasa sedang mendengar gema sejarah yang sangat tua.
Dunia pernah mengalami masa ketika hanya ada dua pilihan. Pada era Perang Dingin, banyak negara dipaksa memilih Washington atau Moskow. Memilih satu berarti memusuhi yang lain.
Namun Indonesia, melalui Soekarno dan Mohammad Hatta, mencoba menawarkan jalan berbeda. Dunia mengenalnya sebagai Gerakan Non-Blok.
Hari ini sejarah seperti berulang dengan wajah yang baru. Kutubnya bukan lagi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kutubnya adalah Amerika Serikat dan Cina.
Artikel Terkait
3 Klub Sepak Bola Elite di Liga 1 Super League Musim Depan, Salah Satunya Didirikan Oleh Prabowo Subianto
2027: Tahun Penentu Prabowo Subianto Satu Atau Dua Periode
FWK Minta Presiden Prabowo Subianto Redam Kenaikan Harga Pangan Yang Telah Menjepit Masyarakat
Pidato Presiden Prabowo Subianto, deklarasi ekonomi baru, dan kisah negara kaya tetapi bocor
Gerakan Mahasiswa Hidayatulah Dukung Presiden Prabowo Subianto Menguatkan Peran Negara Dalam Ekonomi