Mendengar Pidato Prabowo dan Macron di Jamuan Makan Malam

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 29 Mei 2026 | 13:49 WIB

Mereka harus menciptakan jaringan kerja sama yang luas.

Ketika saya mendengar pidato Macron dan Prabowo di Elysee, saya teringat pada tesis utama buku ini.

Dunia yang sedang lahir bukanlah dunia yang sepenuhnya dapat diprediksi. Karena itu bangsa yang berhasil bukanlah bangsa yang paling besar. Melainkan bangsa yang paling siap menghadapi perubahan.

Dan salah satu bentuk kesiapan itu adalah membangun kemitraan dengan negara-negara yang memiliki visi masa depan yang sama.

Malam itu, ketika saya meninggalkan Istana Elysee, Paris sudah larut.

Lampu-lampu kota memantul di jalan. Angin musim semi menuju summer berembus pelan. Di kejauhan, kota yang selama berabad-abad melahirkan revolusi, filsafat, seni, dan gagasan besar itu tampak tenang.

Namun pikiran saya justru dipenuhi pertanyaan tentang masa depan dunia. Saya teringat kembali pada Davos. Saya teringat kembali pada peringatan Mark Carney bahwa tata dunia lama sedang retak.

Saya teringat kembali pada kalimat yang menggema ke seluruh dunia: “If we’re not at the table, we’re on the menu.”

Di Davos, kalimat itu terdengar seperti peringatan. Di Élysée, saya merasa menemukan jawabannya.

Jawaban itu bukan perlombaan senjata. Bukan pula pembentukan blok-blok baru yang saling bermusuhan.

Jawaban itu adalah kerja sama. Kerja sama negara-negara yang cukup kuat untuk menjaga kedaulatannya, tetapi cukup bijak untuk bekerja bersama.

Kerja sama yang dibangun bukan hanya di atas kepentingan ekonomi, tetapi juga di atas ilmu pengetahuan, budaya, kemanusiaan, dan penghormatan terhadap martabat bangsa lain.

Itulah yang saya dengar dari pidato Emmanuel Macron. Itulah yang saya dengar dari pidato Prabowo Subianto.

Dan itulah yang saya rasakan mengalir di antara alunan Mozart, Debussy, dan Bengawan Solo malam itu.

Namun saya juga sadar, pidato yang indah belum tentu menjadi sejarah. Antara retorika Élysée dan kenyataan geopolitik, masih ada jurang yang hanya bisa dijembatani oleh konsistensi, keberanian, dan waktu.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB
X