Oleh Toto Izul Fatah*
WartaPesona.com - Kejatuhan seorang pemimpin tidak selalu karena keserakahan. Seorang pemimpin tidak juga jatuh hanya karena kelemahan militer. Tetapi banyak penguasa kuat berakhir tumbang karena hidup di dalam istana menara gading.
Di dalam istana itu, penguasa merasa negara baik-baik saja. Ia mendengar laporan bahwa rakyat masih loyal, ekonomi masih terkendali, aparat masih solid, musuh masih lemah, dan badai politik hanyalah riak kecil.
Padahal di luar tembok istana, rakyat mulai gelisah, elite mulai pecah, harga-harga mencekik, aparat kehilangan wibawa, dan lawan sedang menyusun kekuatan.
Baca Juga: Jangan Anggap Empat Nyawa Hanya Angka, Pesan Penting Meninggalnya Peserta SPPI
Tragedinya, ketika penguasa akhirnya tahu keadaan yang sebenarnya. Namun, sayang sekali, semuanya sudah terlambat.
Api sudah membesar. Rakyat sudah marah. Istana sudah kehilangan telinga, kehilangan mata, lalu kehilangan tahta. Itulah tragedi seorang penguasa yang menjadi korban Asal Bapak Senang (ABS).
Mari kita mulai dari banyak contoh pahit kejatuhan jenis penguasa seperti itu.
Pertama, Khalifah Al-Musta’sim Billah. Ia khalifah terakhir Abbasiyah di Baghdad, jatuh pada tahun 1258 karena terlambat membaca bahaya akibat minimnya mendapat informasi yang benar.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Prancis Juara Grup I, Senegal Berpeluang Lolos Lewat Jalur Ketiga Terbaik
Dalam beberapa narasi sejarah, Al-Musta’sim digambarkan gagal membaca kekuatan Mongol secara jernih, terlalu percaya kepada kekebalan Baghdad, dan berada dalam lingkaran istana yang tidak sepenuhnya memberi gambaran bahaya secara terang.
Baghdad akhirnya jatuh, dan sang khalifah terbunuh bersama tragedi besar yang menimpa penduduk kota.
Pelajaran dari Baghdad jelas: musuh terbesar penguasa bukan hanya tentara dari luar, tetapi ilusi dari dalam. Ketika penguasa dikelilingi pembisik yang menenangkan dan menyenangkan saja, sedangkan ancaman nyata diremehkan. Maka istana berubah menjadi ruang tidur panjang. Penguasa merasa aman, padahal sejarah sedang bergerak membawa palu kehancuran.
Kedua, Nicholas II, Tsar terakhir Rusia yang tumbang karena terlambat mendengar suara rakyat.
Artikel Terkait
Riset Rentang Citra Politisi Perempuan Indonesia di Instagram
Isu Korupsi, Kriminalisasi Kerugian Bisnis, dan Perlunya Dewan Bussines Judgment Rule
Pasar Asemka Taman Sari, Jakarta Barat Nasibmu Kini
Tirakat politik, Jalan yang Sehat Memulihkan Bangsa yang "Sakit"
Piala Dunia 2026: Belanda Maju ke Babak 32 Besar Setelah Menang Melawan Tunisia