Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Oleh Ahmadie Thaha*

WartaPesona.com - Ada rupanya sesuatu yang lebih menakutkan daripada pertarungan politik: map anggaran. Nanik Sudaryati Deyang mengaku sampai tak bisa tidur. “Memegang anggaran besar itu yang membuat saya trauma akut,” tulisnya di Facebook.

Menjaga uang negara, katanya, seperti berdiri di tepi jurang: meleng sedikit bisa terjerembab. Ia bahkan tak mau membubuhkan tanda tangan sendirian.

Dua wakil kepala Badan Gizi Nasional (BGN) harus ikut paraf. Ketika sekretaris pribadi datang membawa tumpukan dokumen, ia mengaku sudah “parno duluan dan badan panas-dingin”.

Baca Juga: Cina Berlakukan Undang-undang Persatuan Etnis, Tak Mau Lagi Perang Saudara Pecah

Akhirnya tubuhnya menyerah. Jantung kena. Setelah sembilan hari terkapar dan seminggu dirawat, perempuan yang baru sekitar satu setengah bulan memimpin BGN itu mundur karena masalah kesehatan.

Curahan hati (Curhat) itu menarik bukan karena seorang pejabat ternyata bisa takut kepada uang. Justru sebaliknya: bagus kalau pejabat takut kepada uang negara. Yang menarik adalah siapa Nanik, siapa pendahulunya, siapa penggantinya, dan mengapa Presiden Prabowo Subianto berkali-kali mempercayakan program kesayangannya kepada orang-orang yang ia kenal dan percayai.

BGN memang bukan warung nasi raksasa. Ia mengelola salah satu operasi pelayanan publik terbesar yang pernah dibangun republik ini. Anggaran BGN 2026 semula dirancang Rp335 triliun, kemudian anggaran yang dikelola BGN disebut Rp268 triliun dan belakangan kembali diefisienkan.

Target MBG mencapai 82,9 juta penerima manfaat; pada Mei lalu sudah 62,7 juta orang. Dadan Hindayana pernah menggambarkan skala kasnya dengan lebih gamblang: ketika program penuh berjalan, sekitar Rp1,2 triliun harus disalurkan setiap hari.

Baca Juga: Pramono Anung: Orang yang Meninggalkan Partainya Tidak Akan Pernah Besar

Dengan uang sebesar itu, siapa yang duduk di kursi Kepala BGN tentu bukan urusan kecil. Presiden pertama-tama mempercayakannya kepada Dadan Hindayana, akademisi IPB yang memimpin BGN sejak lembaga itu dibentuk. Tetapi perjalanan Dadan berakhir buruk.

Pada 3 Juni 2026 Kejaksaan Agung menetapkannya bersama sejumlah mantan pimpinan BGN sebagai tersangka perkara dugaan korupsi program MBG dan menahannya. Perkara itu masih proses hukum; tentu asas praduga tak bersalah tetap berlaku. Prabowo kemudian menyerahkan BGN kepada Nanik, yang sebelumnya sudah menjadi wakil kepala.

Nanik bukan orang yang baru muncul ketika Prabowo masuk Istana. Dalam pernyataan pengunduran dirinya sendiri ia menyebut sudah 14 tahun mengikuti Prabowo. Ia orang lama dalam lingkaran kepercayaan itu. Tetapi belum genap dua bulan menjadi Kepala BGN, Nanik menyerah kepada kondisi kesehatannya. Ia mundur 22 Juli 2026.

Siapa penggantinya? Orang lama lagi. Presiden pada hari yang sama melantik Sudaryono. Namanya mungkin relatif baru bagi publik nasional, tetapi sama sekali bukan nama baru bagi Prabowo.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB
X