Negara modern bekerja melalui kompetensi, prosedur, audit, pembagian kewenangan, transparansi dan sistem pengendalian yang bahkan harus mampu mencurigai orang paling dipercaya sekalipun.
Mungkin karena itulah perubahan menarik justru terjadi sehari sebelum Nanik mundur. BGN merombak jajaran eselon I. Tiga purnawirawan TNI meninggalkan posisi strategis. Masuk pejabat dengan latar belakang Kementerian Kesehatan, Kemendikdasmen, BPKP, Kementerian Keuangan dan Kejaksaan. Nanik sendiri menyebut langkah itu sebagai upaya mengisi BGN dengan “orang-orang profesional di bidangnya”.
Kalau benar demikian, inilah fase yang oleh kacamata Khaldun dapat dibaca sebagai perjalanan dari ashabiyah menuju institusi.
Ashabiyah bagus untuk merebut bukit. Tetapi setelah bukit dikuasai, orang memerlukan insinyur untuk membangun jalan, akuntan menghitung uang, ahli gizi menyusun makanan, auditor memeriksa pembukuan, dan jaksa memastikan tidak ada yang membawa pulang batu bata.
Solidaritas dapat memenangkan peperangan; ia tidak otomatis pandai membuat laporan pertanggungjawaban.
Justru Curhat Nanik menjadi penting di sini. Kita boleh tersenyum membaca seorang pejabat yang panas-dingin melihat map tanda tangan. Tetapi kalimatnya mengandung kritik kelembagaan yang serius. Jika seorang pejabat yang berniat menjaga uang rakyat harus mengandalkan rasa takut pribadinya agar tidak “kecolongan”, maka benteng negara terlalu banyak dibangun di dalam dada manusia.
Padahal manusia bisa lelah. Bisa sakit. Bisa keliru. Bahkan bisa berubah. Sistem dibangun justru karena negara tidak boleh bergantung pada kesalehan pribadi pejabatnya.
Karena itu ujian Sudaryono bukanlah membuktikan bahwa Prabowo tidak salah mempercayainya. Itu ujian yang terlalu kecil. Ujian sesungguhnya adalah apakah ia mampu membangun BGN yang tidak perlu bergantung kepada kepercayaan Prabowo kepadanya.
Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa ashabiyah dapat membawa sebuah kelompok menuju kekuasaan. Tetapi setelah kekuasaan diperoleh, diperlukan sesuatu yang lain: organisasi, keahlian, aturan, pembagian kerja, serta lembaga yang tetap bekerja sekalipun orang-orang di dalamnya berganti. Di situlah solidaritas kelompok harus tumbuh menjadi kapasitas negara.
Prabowo tentu membutuhkan orang-orang yang ia percaya. Setiap pemimpin membutuhkannya. Hambalang boleh menjadi tempat kesetiaan ditempa, persahabatan diuji, dan orang-orang seperjalanan dikenali wataknya.
Tetapi mengurus uang ratusan triliun dan makanan puluhan juta manusia memerlukan lebih daripada orang-orang yang sudah saling mengenal.
Republik membutuhkan sistem yang tetap dapat dipercaya ketika orang-orang kepercayaan Presiden sudah berganti. Sebab untuk memenangkan kekuasaan mungkin diperlukan ashabiyah. Untuk mengurus negara, tak cukup Ashabiyah Hambalang.***
*Ahmadie Thaha ialah penulis dan kolumnis
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Nanik Sudaryati Deyang Mundur Dari Kepala Badan Gizi Nasional
Garudayaksa FC Mendatangkan Pelatih Asal Serbia Milos Joksic
Garudayaksa FC Diperkuat Pemain Asal Ghana Najeeb Yakubu
Sudaryono Jadi Kepala Badan Gizi Nasional
PSIM Yogyakarta Datangkan Gelandang Bertahan Asal Polandia Adrian Purzycki