Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Negara modern bekerja melalui kompetensi, prosedur, audit, pembagian kewenangan, transparansi dan sistem pengendalian yang bahkan harus mampu mencurigai orang paling dipercaya sekalipun.

Mungkin karena itulah perubahan menarik justru terjadi sehari sebelum Nanik mundur. BGN merombak jajaran eselon I. Tiga purnawirawan TNI meninggalkan posisi strategis. Masuk pejabat dengan latar belakang Kementerian Kesehatan, Kemendikdasmen, BPKP, Kementerian Keuangan dan Kejaksaan. Nanik sendiri menyebut langkah itu sebagai upaya mengisi BGN dengan “orang-orang profesional di bidangnya”.

Kalau benar demikian, inilah fase yang oleh kacamata Khaldun dapat dibaca sebagai perjalanan dari ashabiyah menuju institusi.

Ashabiyah bagus untuk merebut bukit. Tetapi setelah bukit dikuasai, orang memerlukan insinyur untuk membangun jalan, akuntan menghitung uang, ahli gizi menyusun makanan, auditor memeriksa pembukuan, dan jaksa memastikan tidak ada yang membawa pulang batu bata.

Solidaritas dapat memenangkan peperangan; ia tidak otomatis pandai membuat laporan pertanggungjawaban.

Justru Curhat Nanik menjadi penting di sini. Kita boleh tersenyum membaca seorang pejabat yang panas-dingin melihat map tanda tangan. Tetapi kalimatnya mengandung kritik kelembagaan yang serius. Jika seorang pejabat yang berniat menjaga uang rakyat harus mengandalkan rasa takut pribadinya agar tidak “kecolongan”, maka benteng negara terlalu banyak dibangun di dalam dada manusia.

Padahal manusia bisa lelah. Bisa sakit. Bisa keliru. Bahkan bisa berubah. Sistem dibangun justru karena negara tidak boleh bergantung pada kesalehan pribadi pejabatnya.

Karena itu ujian Sudaryono bukanlah membuktikan bahwa Prabowo tidak salah mempercayainya. Itu ujian yang terlalu kecil. Ujian sesungguhnya adalah apakah ia mampu membangun BGN yang tidak perlu bergantung kepada kepercayaan Prabowo kepadanya.

Ibnu Khaldun mengajarkan bahwa ashabiyah dapat membawa sebuah kelompok menuju kekuasaan. Tetapi setelah kekuasaan diperoleh, diperlukan sesuatu yang lain: organisasi, keahlian, aturan, pembagian kerja, serta lembaga yang tetap bekerja sekalipun orang-orang di dalamnya berganti. Di situlah solidaritas kelompok harus tumbuh menjadi kapasitas negara.

Prabowo tentu membutuhkan orang-orang yang ia percaya. Setiap pemimpin membutuhkannya. Hambalang boleh menjadi tempat kesetiaan ditempa, persahabatan diuji, dan orang-orang seperjalanan dikenali wataknya.

Tetapi mengurus uang ratusan triliun dan makanan puluhan juta manusia memerlukan lebih daripada orang-orang yang sudah saling mengenal.

Republik membutuhkan sistem yang tetap dapat dipercaya ketika orang-orang kepercayaan Presiden sudah berganti. Sebab untuk memenangkan kekuasaan mungkin diperlukan ashabiyah. Untuk mengurus negara, tak cukup Ashabiyah Hambalang.***

*Ahmadie Thaha ialah penulis dan kolumnis

Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB
X