Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Suatu sore, dalam sebuah rapat direksi sebuah BUMN, sebuah usulan investasi bernilai triliunan rupiah dipresentasikan. Analisisnya matang. Proyeksi keuntungannya menjanjikan. Risiko telah dipetakan. Berbagai skenario telah disiapkan.
Namun yang paling lama dibahas bukanlah kelayakan proyek itu.
Yang paling lama dibahas adalah satu pertanyaan yang tidak pernah muncul dalam buku-buku manajemen.
Baca Juga: Riset Rentang Citra Politisi Perempuan Indonesia di Instagram
“Bagaimana jika lima tahun lagi proyek ini rugi, lalu kami diperiksa sebagai kasus korupsi?”
Ruangan menjadi sunyi.
Tak seorang pun meragukan pentingnya memberantas korupsi. Tetapi semua menyadari satu kenyataan yang juga tak bisa diabaikan.
Dalam dunia bisnis, tidak ada investasi yang bebas risiko. Tidak ada eksplorasi minyak yang dijamin berhasil. Tidak ada akuisisi yang pasti menguntungkan. Bahkan keputusan terbaik sekalipun dapat berakhir dengan kerugian.
Baca Juga: Serombmngan Perempuan Pedagang Berjuang Sejak Malam dari Stasiun Maja Banten
Ketika setiap kerugian bisnis berpotensi dipandang sebagai tindak pidana, lahirlah budaya baru yang jauh lebih berbahaya daripada kerugian itu sendiri.
Budaya takut mengambil keputusan.
Dan bangsa yang para pemimpinnya takut mengambil keputusan, perlahan kehilangan masa depannya.
Persoalan ini sesungguhnya bukan hanya masalah Indonesia.
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Lolos ke Babak 32
Piala Dunia 2026: Bosnia-Herzegovina Hidupkan Peluang Lolos Setelah Menang Melawan Qatar
Piala Dunia 2026: Brasil dan Maroko Lolos ke Babak 32 Besar
PT KAI Meluncurkan Rel Ekonomi Rakyat Mellaui KA Cikuray di Garut
Pelanggan Kereta Wisata Panoramic Naik 60-an Persen