Mahkamah menegaskan bahwa hakim tidak boleh menggantikan pertimbangan bisnis direksi dengan penilaiannya sendiri. Yang diuji bukan hasil akhirnya, melainkan apakah keputusan diambil dengan informasi yang memadai, tanpa konflik kepentingan, dan dengan keyakinan bahwa keputusan itu merupakan pilihan terbaik bagi perusahaan.
Di situlah letak keagungan Business Judgment Rule. Ia tidak melindungi korupsi. Ia tidak melindungi penyalahgunaan jabatan.
Ia tidak melindungi penipuan. Ia hanya melindungi keberanian yang lahir dari proses yang benar.
Dua buku ini dapat memperkaya pandangan kita tentang masalah di atas.
Buku Pertama: The Business Judgment Rule: Fiduciary Duties of Corporate Directors. Pengarangnya Stephen M. Bainbridge, 2021
Stephen Bainbridge menjelaskan bahwa Business Judgment Rule bukanlah tameng bagi direksi yang gagal. Ia adalah mekanisme hukum yang menjaga keseimbangan antara akuntabilitas dan kebebasan mengambil keputusan bisnis.
Menurut Bainbridge, pengadilan tidak dibangun untuk menjadi ruang kedua rapat direksi. Hakim tidak memiliki mandat menentukan strategi bisnis mana yang paling menguntungkan.
Tugas pengadilan adalah memastikan bahwa proses pengambilan keputusan memenuhi standar hukum, dilakukan dengan itikad baik, berdasarkan informasi yang memadai, dan bebas dari konflik kepentingan.
Tanpa perlindungan semacam itu, direksi akan lebih sibuk melindungi dirinya daripada membangun perusahaannya. Yang lahir bukan budaya inovasi, melainkan budaya defensif. Perusahaan kehilangan keberanian. Negara kehilangan pertumbuhan.
Buku kedua: Good to Great. Penulisnya Jim Collins, 2001
Jim Collins meneliti perusahaan-perusahaan yang berhasil berubah dari perusahaan biasa menjadi perusahaan luar biasa.
Salah satu temuannya yang paling penting adalah bahwa perusahaan besar tidak dibangun oleh pemimpin yang selalu benar, melainkan oleh pemimpin yang mampu membangun sistem pengambilan keputusan yang disiplin.
Konsep Level 5 Leadership menunjukkan bahwa keberanian strategis harus berjalan bersama kerendahan hati dan integritas. Pemimpin terbaik tidak menghindari risiko, tetapi memastikan bahwa setiap risiko diambil melalui proses yang benar.
Pelajaran ini sangat relevan bagi BUMN Indonesia. Yang harus dibangun bukan budaya keberanian yang sembrono, melainkan keberanian yang bertanggung jawab.
Dalam beberapa tahun terakhir saya semakin sering mengikuti rapat-rapat korporasi.
Artikel Terkait
Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Lolos ke Babak 32
Piala Dunia 2026: Bosnia-Herzegovina Hidupkan Peluang Lolos Setelah Menang Melawan Qatar
Piala Dunia 2026: Brasil dan Maroko Lolos ke Babak 32 Besar
PT KAI Meluncurkan Rel Ekonomi Rakyat Mellaui KA Cikuray di Garut
Pelanggan Kereta Wisata Panoramic Naik 60-an Persen