Isu Korupsi, Kriminalisasi Kerugian Bisnis, dan Perlunya Dewan Bussines Judgment Rule

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 26 Juni 2026 | 08:51 WIB

Mahkamah menegaskan bahwa hakim tidak boleh menggantikan pertimbangan bisnis direksi dengan penilaiannya sendiri. Yang diuji bukan hasil akhirnya, melainkan apakah keputusan diambil dengan informasi yang memadai, tanpa konflik kepentingan, dan dengan keyakinan bahwa keputusan itu merupakan pilihan terbaik bagi perusahaan.

Di situlah letak keagungan Business Judgment Rule. Ia tidak melindungi korupsi. Ia tidak melindungi penyalahgunaan jabatan.

Ia tidak melindungi penipuan. Ia hanya melindungi keberanian yang lahir dari proses yang benar.

Dua buku ini dapat memperkaya pandangan kita tentang masalah di atas.

Buku Pertama: The Business Judgment Rule: Fiduciary Duties of Corporate Directors. Pengarangnya Stephen M. Bainbridge, 2021

Stephen Bainbridge menjelaskan bahwa Business Judgment Rule bukanlah tameng bagi direksi yang gagal. Ia adalah mekanisme hukum yang menjaga keseimbangan antara akuntabilitas dan kebebasan mengambil keputusan bisnis.

Menurut Bainbridge, pengadilan tidak dibangun untuk menjadi ruang kedua rapat direksi. Hakim tidak memiliki mandat menentukan strategi bisnis mana yang paling menguntungkan.

Tugas pengadilan adalah memastikan bahwa proses pengambilan keputusan memenuhi standar hukum, dilakukan dengan itikad baik, berdasarkan informasi yang memadai, dan bebas dari konflik kepentingan.

Tanpa perlindungan semacam itu, direksi akan lebih sibuk melindungi dirinya daripada membangun perusahaannya. Yang lahir bukan budaya inovasi, melainkan budaya defensif. Perusahaan kehilangan keberanian. Negara kehilangan pertumbuhan.

Buku kedua: Good to Great. Penulisnya Jim Collins, 2001

Jim Collins meneliti perusahaan-perusahaan yang berhasil berubah dari perusahaan biasa menjadi perusahaan luar biasa.

Salah satu temuannya yang paling penting adalah bahwa perusahaan besar tidak dibangun oleh pemimpin yang selalu benar, melainkan oleh pemimpin yang mampu membangun sistem pengambilan keputusan yang disiplin.

Konsep Level 5 Leadership menunjukkan bahwa keberanian strategis harus berjalan bersama kerendahan hati dan integritas. Pemimpin terbaik tidak menghindari risiko, tetapi memastikan bahwa setiap risiko diambil melalui proses yang benar.

Pelajaran ini sangat relevan bagi BUMN Indonesia. Yang harus dibangun bukan budaya keberanian yang sembrono, melainkan keberanian yang bertanggung jawab.

Dalam beberapa tahun terakhir saya semakin sering mengikuti rapat-rapat korporasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam, Waktunya Pejabat Hijrah

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:25 WIB

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB
X