19 Tahun Pertamina Hulu Energi, Upaya Menemukan Ladang Minyak Raksasa

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Rabu, 1 Juli 2026 | 06:05 WIB

Oleh Denny JA

WartaPesona.com - Seorang geolog berdiri sendirian di atas geladak kapal eksplorasi. Laut tenang. Langit membisu.

Di bawah permukaan air yang tampak biasa saja, tersimpan kemungkinan yang dapat mengubah nasib jutaan manusia.

Namun kemungkinan itu tidak pernah memberi kepastian. Satu pengeboran dapat menghabiskan ratusan juta dolar. Bertahun-tahun kerja keras dapat berakhir tanpa setetes minyak.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Norwegia Menantang Brasil di Babak 16 Besar

Di wajah para geolog, para insinyur, dan para pekerja lapangan, selalu hidup dua emosi sekaligus: harapan yang besar dan keberanian menghadapi kegagalan.

Dari ruang sunyi seperti itulah, sejarah energi dunia sering kali dimulai.

Setiap ulang tahun Pertamina Hulu Energi (PHE), kita perlu menguji diri dengan satu pertanyaan yang sederhana tetapi menentukan: PHE ini akan kita bawa ke mana?

Bukan sekadar tahun depan. Bukan pula hanya sampai akhir Rencana Jangka Panjang Perusahaan. Melainkan sepuluh tahun ke depan. Lima belas tahun ke depan. Dua puluh tahun ke depan.

Baca Juga: Menteri Sosial Saifullah Yusuf Mendukung Usul Sutan Takdir Alisjahbana Dianuegarahi Gelar Pahlwan Nasional

Perusahaan besar tidak dibedakan oleh laba satu kuartal. Ia dikenang karena arah sejarah yang dipilihnya.

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita dapat mengambil inspirasi sebuah studi kasus. Sebuah kisah nyata yang membuktikan bahwa satu penemuan ladang minyak raksasa tidak hanya mengubah sebuah perusahaan energi. Ia mampu mengubah nasib sebuah bangsa.

Sebagian dari kisah ini didapat dari buku The New Guyana: Leadership, Oil, and the Future of a New Petrostate karya Raymond Ramcharitar, 2024.

Buku ini menjelaskan bagaimana Guyana mengalami transformasi yang hampir tidak pernah terjadi dalam sejarah modern. Selama puluhan tahun, Guyana dikenal sebagai salah satu negara termiskin di Amerika Selatan dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif rendah, berkisar dua hingga lima persen per tahun.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB
X