Inilah yang saya sebut sebagai engineering without anthropology. Pembangunan yang menganggap manusia sekadar variabel statistik.
Padahal manusia bukan angka. Manusia adalah memori, identitas, luka, dan harapan.
Papua membutuhkan revisi pembangunan: dari engineering without anthropology menjadi engineering with anthropology.
Tiga hal ini masih bisa dikerjakan, merevisi model pembangunan sekarang ini agar ramah kepada masyarakat lokal.
Pertama, membangun Community Sovereign Fund untuk masyarakat adat Papua.
Bukan CSR musiman. Tetapi dana abadi masyarakat adat yang bersumber dari keuntungan proyek pangan, bioenergi, karbon, atau sawit.
Sebagian laba perusahaan harus masuk ke dana bersama yang dikelola transparan oleh tokoh adat, gereja, perempuan Papua, akademisi, dan generasi muda.
Dana ini dipakai untuk pendidikan, rumah sakit, internet desa, modal usaha lokal, hingga perlindungan budaya dan hutan adat.
Jika tanah Papua menghasilkan kekayaan, masyarakat Papua harus menjadi pemilik masa depan ekonomi itu. Bukan sekadar penerima kompensasi.
Kedua, masyarakat adat harus menjadi mitra utama pembangunan.
Selama ini masyarakat sering hanya diberi sosialisasi setelah keputusan selesai dibuat.
Padahal mereka memiliki pengetahuan ekologis yang sangat dalam tentang hutan, rawa, sungai, dan tanah Papua.
Setiap proyek strategis nasional harus melibatkan sistem co-governance.
Masyarakat adat ikut menentukan wilayah yang boleh dibuka, kawasan sakral yang dilindungi, pola rekrutmen tenaga kerja, hingga distribusi keuntungan.
Perusahaan tidak cukup memiliki engineer dan konsultan finansial. Mereka juga harus memiliki antropolog sosial.
Artikel Terkait
Pesta Kesenian Bali 2025: Perpaduan Budaya dan Ekonomi Kreatif di Mata Wakil Menteri Pariwisata
Jakarta Fair 2025 Tembus Rp7,3 Triliun: Pesta Rakyat, Bukti Stabilitas Ekonomi Ibu Kota
Pesta Rakyat di Istana: Presiden Prabowo Buka Lebar Pintu Upacara 17 Agustus untuk Masyarakat
HUT ke-80 RI Jadi Pesta Rakyat: Karnaval Malam hingga Istana Terbuka untuk Masyarakat
UMKM Banten Bersinar di Pesta Rakyat Monas, 14.000 Paket Produk Terjual