Menurutnya, kota yang sehat bukan dibangun dari desain yang sempurna di atas kertas, tetapi dari kehidupan nyata manusia sehari-hari.
Ia percaya bahwa pembangunan harus tumbuh bersama masyarakat, bukan dipaksakan dari atas.
Semangat Jacobs sangat relevan untuk Papua.
Pembangunan tidak boleh hanya mengejar target hektare, produksi gula, atau liter bioetanol.
Pembangunan harus bertanya: Bagaimana masyarakat hidup? Apa yang mereka anggap suci? Apa yang mereka takut kehilangan?
Jacobs mengingatkan bahwa modernitas yang tidak memahami manusia akan menghasilkan ruang yang rapi, tetapi kosong secara jiwa.
Dan mungkin, itulah ancaman terbesar pembangunan modern hari ini.
Isu Papua terlalu sering dibahas hanya dengan emosi atau propaganda politik. Padahal masalah ini jauh lebih rumit.
Negara memiliki kebutuhan nyata terhadap pangan dan energi. Tetapi masyarakat adat juga memiliki hak hidup, hak budaya, dan hak atas martabat mereka.
Karena itu, solusi terbaik bukan menghentikan pembangunan. Solusi terbaik adalah mengubah cara kita membangun.
Dari pembangunan yang dingin menjadi pembangunan yang mendengar.
Dari pembangunan yang melihat manusia sebagai hambatan menjadi pembangunan yang melihat manusia sebagai tujuan.
Saya percaya, masa depan Papua tidak boleh dipilih antara hutan atau modernitas. Papua berhak mendapatkan keduanya.
Karena pembangunan sejati bukan tentang seberapa cepat kita membangun jalan.
Tetapi tentang apakah manusia masih merasa memiliki rumah ketika jalan itu selesai dibangun.***
Artikel Terkait
Pesta Kesenian Bali 2025: Perpaduan Budaya dan Ekonomi Kreatif di Mata Wakil Menteri Pariwisata
Jakarta Fair 2025 Tembus Rp7,3 Triliun: Pesta Rakyat, Bukti Stabilitas Ekonomi Ibu Kota
Pesta Rakyat di Istana: Presiden Prabowo Buka Lebar Pintu Upacara 17 Agustus untuk Masyarakat
HUT ke-80 RI Jadi Pesta Rakyat: Karnaval Malam hingga Istana Terbuka untuk Masyarakat
UMKM Banten Bersinar di Pesta Rakyat Monas, 14.000 Paket Produk Terjual