Film Pesta Babi dan Kisah Pembangunan Tanpa Antropology di Papua

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Selasa, 19 Mei 2026 | 08:37 WIB

Kekuatan terbesarnya adalah kemampuannya memanusiakan isu Papua. Papua tidak hadir sebagai statistik pembangunan, melainkan sebagai wajah ibu-ibu yang kehilangan sungai, petani muda yang gagal bertani karena tak punya modal, dan masyarakat adat yang menancapkan salib merah di hutan sebagai tanda perlawanan.

Namun film ini juga memiliki kelemahan penting.

Perspektif pemerintah, militer, dan pengusaha hampir tak diberi ruang yang memadai. Padahal negara tentu memiliki argumen: kebutuhan ketahanan pangan, energi nasional, bioetanol, biodiesel, hingga ancaman impor pangan.

Akibatnya, film ini sangat kuat secara moral dan emosional, tetapi kurang menghadirkan dialog utuh tentang trilema pembangunan Indonesia modern.

Andai film ini juga memberi ruang pada suara pemerintah dan pengusaha, ia akan menjadi dokumenter yang lebih jujur. Keberpihakan pada masyarakat adat justru terasa lebih meyakinkan ketika lahir dari trilema yang utuh.

Saya mulai menceritakan dulu isi film ini. Lalu memberikan rekomendasi bagaimana revisi model pembangunan Papua yang seharusnya, yang lebih peka kepada anthropology, ekologi, partisipasi budaya dan masyarakat adat.

Film ini berkisah tentang proyek pangan dan energi raksasa di Papua Selatan yang membuka sekitar 2,5 juta hektare lahan untuk sawah, tebu bioetanol, sawit biodiesel, dan peternakan.

Negara menyebutnya proyek strategis nasional.

Tetapi, bagi masyarakat adat Papua, proyek ini terasa seperti awal dari hilangnya dunia mereka. Film mengikuti kehidupan masyarakat Awyu, Marin, Yeinan, dan Muyu.

Mereka bukan aktivis terkenal. Mereka hanya manusia biasa yang mempertahankan tanah leluhur, rawa, sungai, dan hutan yang selama ratusan tahun menjadi sumber kehidupan mereka.

Orang-orang Awyu memasang begitu banyak salib merah di hutan adat. Salib itu bukan simbol agama semata, tetapi tanda larangan terhadap perusahaan dan negara agar tidak memasuki wilayah adat mereka.

Di sinilah film menjadi sangat kuat.

Ia memperlihatkan bahwa bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar aset ekonomi. Hutan adalah supermarket, rumah spiritual, bank makanan, sekaligus makam leluhur.

Ketika pohon ditebang, yang hilang bukan hanya kayu. Yang hilang adalah identitas.

Film ini juga menunjukkan ironi pembangunan modern. Negara datang membawa sawah, bioetanol, biodiesel, dan investasi. Tetapi, masyarakat lokal justru merasa semakin tersingkir.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X