Kekuatan terbesarnya adalah kemampuannya memanusiakan isu Papua. Papua tidak hadir sebagai statistik pembangunan, melainkan sebagai wajah ibu-ibu yang kehilangan sungai, petani muda yang gagal bertani karena tak punya modal, dan masyarakat adat yang menancapkan salib merah di hutan sebagai tanda perlawanan.
Namun film ini juga memiliki kelemahan penting.
Perspektif pemerintah, militer, dan pengusaha hampir tak diberi ruang yang memadai. Padahal negara tentu memiliki argumen: kebutuhan ketahanan pangan, energi nasional, bioetanol, biodiesel, hingga ancaman impor pangan.
Akibatnya, film ini sangat kuat secara moral dan emosional, tetapi kurang menghadirkan dialog utuh tentang trilema pembangunan Indonesia modern.
Andai film ini juga memberi ruang pada suara pemerintah dan pengusaha, ia akan menjadi dokumenter yang lebih jujur. Keberpihakan pada masyarakat adat justru terasa lebih meyakinkan ketika lahir dari trilema yang utuh.
Saya mulai menceritakan dulu isi film ini. Lalu memberikan rekomendasi bagaimana revisi model pembangunan Papua yang seharusnya, yang lebih peka kepada anthropology, ekologi, partisipasi budaya dan masyarakat adat.
Film ini berkisah tentang proyek pangan dan energi raksasa di Papua Selatan yang membuka sekitar 2,5 juta hektare lahan untuk sawah, tebu bioetanol, sawit biodiesel, dan peternakan.
Negara menyebutnya proyek strategis nasional.
Tetapi, bagi masyarakat adat Papua, proyek ini terasa seperti awal dari hilangnya dunia mereka. Film mengikuti kehidupan masyarakat Awyu, Marin, Yeinan, dan Muyu.
Mereka bukan aktivis terkenal. Mereka hanya manusia biasa yang mempertahankan tanah leluhur, rawa, sungai, dan hutan yang selama ratusan tahun menjadi sumber kehidupan mereka.
Orang-orang Awyu memasang begitu banyak salib merah di hutan adat. Salib itu bukan simbol agama semata, tetapi tanda larangan terhadap perusahaan dan negara agar tidak memasuki wilayah adat mereka.
Di sinilah film menjadi sangat kuat.
Ia memperlihatkan bahwa bagi masyarakat Papua, hutan bukan sekadar aset ekonomi. Hutan adalah supermarket, rumah spiritual, bank makanan, sekaligus makam leluhur.
Ketika pohon ditebang, yang hilang bukan hanya kayu. Yang hilang adalah identitas.
Film ini juga menunjukkan ironi pembangunan modern. Negara datang membawa sawah, bioetanol, biodiesel, dan investasi. Tetapi, masyarakat lokal justru merasa semakin tersingkir.
Artikel Terkait
Pesta Kesenian Bali 2025: Perpaduan Budaya dan Ekonomi Kreatif di Mata Wakil Menteri Pariwisata
Jakarta Fair 2025 Tembus Rp7,3 Triliun: Pesta Rakyat, Bukti Stabilitas Ekonomi Ibu Kota
Pesta Rakyat di Istana: Presiden Prabowo Buka Lebar Pintu Upacara 17 Agustus untuk Masyarakat
HUT ke-80 RI Jadi Pesta Rakyat: Karnaval Malam hingga Istana Terbuka untuk Masyarakat
UMKM Banten Bersinar di Pesta Rakyat Monas, 14.000 Paket Produk Terjual