Natalis Buer, seorang petani muda Papua, berkata bahwa orang Papua sebenarnya mau bertani. Tetapi mereka tidak diberi modal yang cukup, pupuk, teknologi, atau akses pasar. Akibatnya, sawah yang dibuka negara perlahan dikuasai pendatang.
Orang Papua menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Perempuan-perempuan Papua menjadi suara paling emosional dalam film ini. Mereka melihat rawa mengering, kasuari kehilangan habitat, dan sungai rusak.
Mereka bertanya dengan kalimat sederhana yang terasa lebih tajam dari pidato politik manapun: “Kalau tanah ini habis, kami hidup di mana?”
Film ini juga mengangkat isu militerisasi Papua. Ribuan tentara hadir untuk menjaga proyek strategis nasional. Negara menyebutnya demi keamanan. Tetapi, masyarakat adat membawa ingatan panjang tentang operasi militer dan trauma masa lalu.
Salah satu kekuatan intelektual film ini adalah kemampuannya menghubungkan Papua dengan sejarah kolonialisme global.
Dulu kolonialisme datang melalui tebu, rempah, dan perkebunan. Kini, ia datang dengan nama baru: bioetanol, biodiesel, dan ketahanan energi.
Film ini memaksa kita bertanya: Apakah pembangunan selalu harus berarti penghancuran? Dan apakah negara berhak menyebut tanah adat sebagai “lahan kosong”?
Saya teringat pengalaman pribadi beberapa tahun lalu ketika berkunjung ke wilayah timur Indonesia.
Seorang tokoh adat berkata kepada saya: “Kami tidak takut modernitas. Kami takut dilupakan sebagai manusia.”
Kalimat itu terus tinggal dalam kepala saya.
Sebagai orang yang lama berkecimpung dalam dunia kebijakan, riset, dan pembangunan, saya memahami logika negara. Indonesia memang membutuhkan ketahanan pangan dan energi. Dunia juga sedang bergerak menuju bioenergi.
Tetapi, saya juga melihat bahaya ketika pembangunan hanya dipimpin oleh engineer, ekonom, dan birokrat, tanpa mendengar antropolog, budayawan, atau masyarakat adat.
Pembangunan akhirnya menjadi sangat efisien, tetapi dingin. Ia berhasil membangun jalan, tetapi gagal membangun rasa memiliki.
Ia sukses menaikkan angka produksi, tetapi gagal menjaga martabat manusia.
Artikel Terkait
Pesta Kesenian Bali 2025: Perpaduan Budaya dan Ekonomi Kreatif di Mata Wakil Menteri Pariwisata
Jakarta Fair 2025 Tembus Rp7,3 Triliun: Pesta Rakyat, Bukti Stabilitas Ekonomi Ibu Kota
Pesta Rakyat di Istana: Presiden Prabowo Buka Lebar Pintu Upacara 17 Agustus untuk Masyarakat
HUT ke-80 RI Jadi Pesta Rakyat: Karnaval Malam hingga Istana Terbuka untuk Masyarakat
UMKM Banten Bersinar di Pesta Rakyat Monas, 14.000 Paket Produk Terjual