opini

Awal Terbentuknya Kelas Baru: Kelas Digital yang Rentan

Senin, 6 Juli 2026 | 06:53 WIB

Perbedaannya bukan semata-mata soal pendapatan atau pekerjaan, melainkan soal pengetahuan. Sebagian orang memahami logika sistem.

Sebagian lain hanya menerima akibatnya. Maka DVC bukan hanya kelas ekonomi baru, tetapi juga kelas yang dipisahkan oleh kemampuan memahami mekanisme yang mengatur hidupnya

Enam dimensi DVC menunjukkan bahwa kerentanan pekerja digital tidak berdiri sendiri. Ia membentuk ekosistem. Setiap kerentanan memperkuat kerentanan lain.

Pertama adalah kerentanan ekonomi. Pendapatan pekerja digital naik turun secara tajam dan sulit diprediksi. Bagi sebagian peserta, platform menjadi sumber utama bahkan satu-satunya penghasilan. Ketika order hilang, akun disuspend, atau viewers turun, kehidupan ekonomi langsung terganggu.

Fleksibilitas yang semula menjadi daya tarik berubah menjadi fleksibilitas semu: bebas bekerja, tetapi harus selalu online.

Kedua adalah kerentanan algoritma. Algoritma menentukan order, viewers, rating, reputasi, visibilitas, dan pendapatan. Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya kekuasaan algoritma, tetapi ketidakjelasannya.

Pekerja tidak mengetahui mengapa sistem berubah, bagaimana keputusan dibuat, dan bagaimana memperbaikinya. Hubungan manusia dan teknologi berubah menjadi hubungan yang nyaris feodal. Hanya saja tuannya kini tersembunyi di balik kode.

Ketiga adalah kerentanan hak. Para pekerja digital memikul risiko seperti pekerja tetap, tetapi sering tidak memiliki perlindungan yang setara.

Mereka menghadapi kecelakaan, penipuan, suspend akun, perubahan kebijakan, dan sengketa pelanggan, tetapi mekanisme pengaduan sering lambat, otomatis, atau tidak memuaskan. Status “mitra” membuat tanggung jawab platform menjadi kabur.

Keempat adalah kerentanan pengakuan. Banyak pekerjaan digital telah menjadi sumber nafkah utama, tetapi belum sepenuhnya diakui sebagai profesi stabil. Freelancer masih dianggap belum memiliki pekerjaan tetap.

Content creator dianggap hanya bermain media sosial. Seller digital dianggap sekadar jualan online. Masyarakat masih menggunakan ukuran lama untuk menilai pekerjaan baru.

Kelima adalah kerentanan harapan. Banyak peserta tetap bekerja keras, tetapi tidak ingin anaknya menempuh profesi yang sama. Jawaban itu sangat berarti.

Seseorang mungkin bertahan dalam suatu pekerjaan, tetapi ketika ia tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama, ia sesungguhnya sedang kehilangan keyakinan terhadap masa depan profesinya. Harapan masih ada, tetapi semakin rapuh. Harapan masih menjadi bahan bakar, tetapi tangkinya semakin tipis.

Keenam adalah solidaritas kelas. Setiap kelas sosial dalam sejarah lahir melalui pengalaman bersama. Proletariat lahir dari pabrik. Petani lahir dari desa.

Kelas menengah lahir dari pendidikan dan profesi. DVC lahir dari pengalaman digital yang sama. Driver merasa senasib dengan kurir. Seller memahami kecemasan influencer. Freelancer memahami arti reputasi digital. Mereka memang bekerja dalam profesi berbeda, tetapi hidup di bawah logika sistem yang sama.

Halaman:

Tags

Terkini

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB