Teknologi benar-benar membuka pintu kesempatan baru. Namun pada saat yang sama, pintu itu hanya memiliki satu penjaga: algoritma. Inilah inti DVC. Platform memberi peluang, tetapi sekaligus menciptakan kerentanan. Semakin besar peluang yang dibuka, semakin besar pula ketergantungan yang lahir.
Saya beberapa kali merenungkan hasil penelitian ini sendirian, terutama setelah membaca kembali transkrip demi transkrip. Ada kalimat yang terus mengganggu pikiran saya: “Bekerja keras belum tentu menghasilkan kehidupan yang lebih baik.”
Kalimat itu dahulu mungkin terdengar seperti keluhan biasa. Kini saya memandangnya sebagai gejala perubahan peradaban.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa kerja keras adalah jalan menuju masa depan. Namun dalam ekosistem digital, kerja keras saja ternyata tidak lagi cukup. Yang bekerja bukan hanya manusia. Yang bekerja juga algoritma.
Manusia dapat meningkatkan kualitas dirinya, tetapi ia tidak dapat mengendalikan perubahan parameter sistem. Di situlah lahir kecemasan baru, bukan kecemasan karena malas, melainkan kecemasan karena kehilangan kendali.
Yang hilang bukan hanya pendapatan. Yang mulai hilang adalah keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun melalui usaha sendiri.
Namun apakah DVC benar-benar merupakan kelas sosial baru?
Di sinilah kontra argumen perlu diajukan. Sebagian ilmuwan mungkin berpendapat bahwa DVC hanyalah variasi baru dari precariat digital. Yang berubah hanyalah teknologi, sedangkan substansi hubungan kerja tetap sama. Pendapat ini layak dipertimbangkan.
Memang ada irisan antara DVC dan precariat. Keduanya sama-sama mengalami ketidakpastian kerja, perlindungan lemah, posisi tawar rendah, dan mobilitas sosial terbatas. Namun riset ini menunjukkan adanya unsur yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh konsep precariat.
Kerentanan utama DVC bukan hanya berasal dari fleksibilitas pasar tenaga kerja. Ia berasal dari ketergantungan terhadap sistem algoritmik yang tidak transparan, hilangnya hubungan yang jelas antara usaha dan hasil, reputasi digital sebagai aset ekonomi, ketakutan kehilangan akses digital, data yang tidak dimiliki pekerja, dan kekuasaan algoritma yang mengatur peluang hidup sehari-hari.
Pola ini muncul lintas profesi, dari pengemudi hingga seller live commerce, meskipun intensitasnya berbeda.
Karena itu, DVC belum perlu disebut sebagai kelas sosial yang telah mapan. Lebih tepat jika ia disebut sebagai embrio kelas sosial baru. Ia masih tumbuh, masih harus diuji, dan masih perlu diteliti di berbagai negara, platform, serta periode waktu.
Namun benih-benihnya telah terlihat cukup jelas. Sejarah ilmu pengetahuan selalu dimulai dari keberanian mengenali benih sebelum ia menjadi hutan.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kelas sosial baru lahir bukan hanya karena cara manusia mencari nafkah berubah, tetapi juga karena cara manusia menghadapi ketidakpastian ikut berubah.
Dulu ketidakpastian datang dari musim, perang, atau pemilik modal. Kini ketidakpastian datang dari algoritma. Nasib ekonomi seseorang dapat berubah tanpa ia pernah memahami sebabnya. Di sinilah letak kebaruan DVC.
Artikel Terkait
Lebih Dari Sekadar Sebuah Ruang: Curated living hadir di ASHTA District 8
Persib Bandung Ikat Kontrak Pemain Timnas Indonesia Ragnar Oratmangoen Sampai 2029
Piala Dunia 2026: Maroko ke Perempatfinal Setelah Menyingkirkan Kanada
Piala Dunia 2026: Prancis Menantang Maroko di Perempat Final
Papua Pegunungan Membangun Koperasi Untuk Menampung Hasil Bumi Masyarakat