Awal Terbentuknya Kelas Baru: Kelas Digital yang Rentan

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 6 Juli 2026 | 06:53 WIB

Bagi sosiologi, pengulangan pengalaman pada kelompok yang berbeda jarang sekadar kebetulan. Ia sering menjadi penanda bahwa yang sedang bekerja bukan masalah individual, melainkan sebuah struktur. Dalam konteks ini, sumber kerentanan tidak lagi terutama berasal dari jenis pekerjaan, tetapi dari mekanisme yang sama: algoritma platform.

Karena itu, esai ini tidak mengklaim bahwa Digitally Vulnerable Class telah menjadi kategori yang final. Yang diajukan adalah sebuah hipotesis teoritis dengan pijakan empiris yang kuat. Jika penelitian di berbagai negara terus menemukan pola yang serupa, DVC berpeluang berkembang menjadi salah satu konsep penting untuk memahami stratifikasi sosial dalam kapitalisme algoritma abad ke-21.

Dua buku ini memperkaya wawasan kita tentang topik yang dimaksud.

Buku pertama, berjudul: The Precariat: The New Dangerous Class Guy Standing, Bloomsbury Academic 2011

Guy Standing memperkenalkan konsep precariat sebagai kelas sosial yang hidup dalam ketidakpastian kerja akibat fleksibilitas pasar tenaga kerja. Mereka tidak memiliki kontrak tetap, jaminan sosial, maupun identitas pekerjaan yang stabil.

Menurut Standing, precariat bukan sekadar kelompok miskin, tetapi kelompok yang kehilangan kepastian masa depan sehingga rentan terhadap frustrasi sosial dan politik.

Buku ini penting karena menjelaskan bagaimana globalisasi dan deregulasi pasar menciptakan jutaan pekerja yang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa perlindungan memadai. Namun hubungan kerja precariat masih terutama ditentukan oleh perusahaan, kontrak, dan pasar tenaga kerja konvensional.

Mereka masih relatif mengetahui siapa pemberi kerja mereka dan mengapa pekerjaan mereka hilang. Di sinilah riset DVC bergerak lebih jauh.

Pekerja platform bukan hanya kehilangan kepastian kerja, tetapi juga kehilangan kemampuan memahami sistem yang menentukan nasib ekonominya. Mereka bukan hanya rentan terhadap pasar, tetapi juga rentan terhadap algoritma yang tidak transparan.

Buku kedua: The Age of Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff, PublicAffairs, 2019

Shoshana Zuboff menjelaskan bahwa perusahaan digital modern tidak lagi sekadar menjual produk atau layanan. Mereka mengumpulkan data perilaku manusia dalam skala besar, lalu menggunakan data itu untuk memprediksi dan memengaruhi tindakan pengguna.

Data berubah menjadi sumber keuntungan utama, sementara algoritma menjadi instrumen pengambilan keputusan yang semakin menentukan kehidupan sehari-hari.

Buku ini membantu menjelaskan mengapa pekerja platform mulai merasa hidup mereka dikendalikan oleh sistem yang tidak mereka pahami.

Namun riset DVC memperluas analisis Zuboff. Yang menjadi pusat perhatian bukan hanya eksploitasi data, tetapi bagaimana algoritma mengatur akses terhadap pekerjaan, pendapatan, reputasi, pelanggan, dan harapan hidup pekerja digital.

Dengan demikian, penelitian ini berusaha menjembatani teori kapitalisme pengawasan dengan teori kelas sosial kontemporer.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB
X