Lebih Dari Sekadar Sebuah Ruang: Curated living hadir di ASHTA District 8

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Sabtu, 4 Juli 2026 | 14:42 WIB

WartaPesona.com - Sebuah ruang tidak hanya dibentuk oleh dinding dan furnitur, tetapi juga oleh cerita, perasaan, dan pengalaman yang hadir di dalamnya.

Berangkat dari pemikiran tersebut, ASHTA District 8 menghadirkan curated living, sebuah karya yang mengeksplorasi tentang seni, desain, dan gaya hidup dapat saling terhubung dalam menciptakan pengalaman ruang yang lebih bermakna.

Berlangsung pada 3–26 Juli 2026, curated living mengajak pengunjung menemukan perspektif baru tentang cara melihat, merasakan, dan menjalani keseharian melalui pengalaman yang dikurasi secara menyeluruh.

Baca Juga: Inilah Jadwal Babak 16 Besar Piala Dunia 2026

Dengan membawa tema Where Design Meets Lifestyle, curated living menghadirkan rangkaian pengalaman yang memperlihatkan bahwa seni tidak hanya hadir di dalam galeri, tetapi juga dapat menjadi bagian dari ruang hidup dan aktivitas sehari-hari.

Melalui kolaborasi bersama praktisi seni, desain, dan interior, ruang ini menghubungkan karya artistik dengan fungsi ruang itu sendiri, menghadirkan pengalaman yang menginspirasi sekaligus relevan dengan kehidupan urban masa kini.

Alaya Kala: seni, desain, dan cara baru melihat ruang

Sebagai bagian utama dari curated living, Alaya Kala hadir di Melting Pot, Ground Floor sebagai sebuah pameran imersif yang mempertemukan karya-karya pematung Indonesia Adi Gunawan dengan pendekatan interior yang dikurasi secara harmonis.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Kolombia Tantang Swiss

Dipersembahkan oleh Sankhara bersama Pola Studio EST. 2016, Theory of Living, dan Quatro Design Studio, Alaya Kala menghadirkan sebuah living space di mana karya seni dan desain interior berpadu secara harmonis, memperlihatkan bagaimana keduanya mampu membangun koneksi berkesinambungan dan sekaligus menghadirkan makna baru dalam sebuah ruang.

Diambil dari bahasa Sanskerta, Alaya berarti tempat bernaung dan Kala berarti waktu, yang

bersama-sama merepresentasikan sebuah ruang yang menyimpan perjalanan, jejak, dan ingatan.

Gagasan tersebut berangkat dari akar budaya yang melekat dalam perjalanan berkarya Adi Gunawan di Yogyakarta, kemudian diterjemahkan ke dalam pengalaman ruang yang lebih kontemporer melalui interpretasi elemen-elemen arsitektur rumah Jawa, khususnya Joglo. Alaya Kala mengangkat esensi nilai, memori, dan warisan budaya ke dalam sebuah ruang yang relevan dengan kehidupan masa kini.

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Argentina Menantang Mesir

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X