Karl Marx menjelaskan bahwa konflik utama kapitalisme terjadi antara pemilik modal dan buruh. Hubungan kekuasaan masih jelas. Buruh mengetahui siapa yang mempekerjakan mereka dan siapa yang menentukan upah mereka. Karena hubungan itu nyata, konflik pun nyata.
Negosiasi dapat dilakukan, serikat buruh dapat dibentuk, dan demonstrasi memiliki sasaran yang jelas.
Sebaliknya, pekerja digital menghadapi sesuatu yang jauh lebih kabur. Mereka tidak selalu mengetahui mengapa order turun, mengapa akun kehilangan jangkauan, mengapa video dengan kualitas sama menghasilkan penonton yang berbeda, mengapa tarif berubah, mengapa akun disuspend, atau mengapa komisi dipotong.
Pertanyaan-pertanyaan itu sering berakhir tanpa jawaban. Hubungan kekuasaan berubah menjadi hubungan dengan sistem yang nyaris tidak memiliki wajah.
Guy Standing menggambarkan precariat sebagai kelas yang hidup dalam ketidakpastian pekerjaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja digital mengalami sesuatu yang lebih dalam: ketidakpastian sebab.
Mereka bukan hanya tidak mengetahui apakah besok memperoleh pekerjaan. Mereka juga tidak mengetahui mengapa hari ini mereka kehilangan pekerjaan.
Dalam masyarakat industri, hubungan sebab akibat masih dapat dijelaskan. Produksi turun, permintaan menurun, perusahaan merugi, lalu terjadi pemutusan hubungan kerja.
Dalam masyarakat digital, hubungan sebab akibat sering menghilang. Pendapatan turun tanpa penjelasan. Viewers hilang tanpa alasan. Order berhenti tanpa pemberitahuan. Kerja keras meningkat, tetapi hasil justru menurun. Di sinilah hubungan antara usaha dan hasil menjadi kabur.
Precariat hidup dalam ketidakpastian kerja akibat fleksibilitas pasar dan lemahnya perlindungan sosial. DVC menanggung lapisan kerentanan yang lebih baru: hidupnya semakin ditentukan oleh algoritma yang tak mereka pahami, oleh patahnya hubungan sebab-akibat antara usaha dan hasil. Juga oleh reputasi digital dan data yang menjadi aset ekonomi tetapi dikendalikan platform, bukan pekerja.
Temuan paling revolusioner dari riset ini adalah berubahnya algoritma dari alat teknis menjadi otoritas sosial. Dalam persepsi para peserta, algoritma telah menjadi kekuasaan baru.
Ia menentukan distribusi order, reputasi, visibilitas, akses pelanggan, performa akun, dan besarnya pendapatan. Dalam beberapa kasus, ia menentukan apakah seseorang masih dapat membeli beras minggu depan.
Dahulu birokrasi menentukan hidup warga negara. Kemudian pasar menentukan hidup pekerja. Kini algoritma mulai menentukan peluang ekonomi jutaan manusia. Perubahan ini sangat besar, tetapi ironisnya kita masih sering menjelaskannya dengan teori lama.
Namun riset ini juga menemukan paradoks penting. Hampir seluruh peserta tetap memandang platform digital sebagai gerbang ekonomi. Mereka tidak membencinya.
Mereka justru membutuhkannya. Platform membuka kesempatan yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki. Seorang ibu rumah tangga dapat menjadi seller nasional.
Seorang penyanyi lokal dapat memperoleh undangan manggung. Seorang desainer memperoleh klien luar negeri. Seorang programmer dibayar dalam dolar.