Baca Juga: Provinsi (Tatar) Sunda: Mengembalikan Jawa Barat ke Sejarahnya
Namun beberapa tahun terakhir saya merasakan sesuatu yang berbeda. Semakin banyak orang berkata, “Saya bekerja sangat keras, tetapi saya tidak lagi tahu siapa yang menentukan hasil kerja saya.”
Kalimat itu diucapkan oleh pengemudi daring, kurir, freelancer, content creator, dan seller live commerce. Mereka berasal dari profesi yang berbeda, tetapi mengeluhkan pengalaman yang hampir sama.
Di situlah intuisi ilmiah mulai bekerja. Mungkin persoalannya bukan lagi profesi. Mungkin persoalannya adalah struktur baru yang mengikat mereka semua.
Penelitian ini dilaksanakan oleh LSI Denny JA, Divisi Khusus.
Riset menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif melalui Focus Group Discussion yang dilaksanakan pada 23 Juni 2026 di Jakarta.
Sebanyak 30 partisipan dibagi ke dalam lima kelompok profesi: pengemudi ojek dan taksi daring, kurir serta pekerja logistik platform, freelancer digital yang mencakup programmer, desainer, dan editor, content creator serta influencer, dan seller live commerce serta pelaku ekonomi digital berbasis platform.
Seluruh peserta menjadikan platform digital sebagai sumber utama penghasilan, telah bekerja melalui aplikasi setidaknya tiga hingga enam bulan, dan berdomisili di Jabodetabek.
Data dianalisis melalui transkripsi, open coding, axial coding, selective coding, dan analisis tematik untuk menemukan pola pengalaman yang berulang lintas profesi.
Yang dicari bukan sekadar keluhan. Yang dicari adalah pola. Dalam ilmu sosial, sebuah kelas baru tidak lahir karena banyak orang menderita. Ia lahir ketika banyak orang mengalami pola pengalaman yang sama, menghadapi struktur kekuasaan yang sama, dan memiliki bentuk kerentanan yang khas.
Sebuah teori tentang lahirnya kelas sosial baru tidak dapat bertumpu pada satu jenis bukti. Focus Group Discussion membuka jendela ke pengalaman hidup para pekerja platform. Namun pengalaman itu baru memperoleh makna ketika dibaca bersama perubahan sosial yang lebih luas.
Karena itu, konsep Digitally Vulnerable Class (DVC) dalam esai ini ditopang oleh tiga lapisan bukti empiris.
Pertama, perubahan struktur pasar kerja. Dalam satu dekade terakhir, jutaan orang memasuki ekonomi platform. Walau profesinya beragam, mereka berbagi satu kenyataan: akses terhadap pelanggan, pendapatan, dan peluang kerja semakin ditentukan oleh algoritma. Ketergantungan pada sistem komputasi telah menjadi ciri umum pekerjaan digital.
Kedua, temuan riset internasional. Berbagai penelitian di banyak negara memperlihatkan pola yang serupa: algoritma yang tidak transparan, pendapatan yang fluktuatif, lemahnya perlindungan sosial, dan minimnya ruang untuk menggugat keputusan platform. Nama platform boleh berbeda, tetapi bentuk kerentanannya berulang.
Ketiga, konsistensi pengalaman lintas profesi. Dalam penelitian ini, pengemudi, kurir, freelancer, content creator, influencer, hingga penjual live commerce tidak pernah menyusun cerita bersama. Namun mereka mengisahkan kegelisahan yang sama: takut pada perubahan algoritma, kehilangan visibilitas, turunnya pesanan tanpa penjelasan, dan ketidakmampuan memahami logika sistem yang menentukan masa depan ekonomi mereka.