Juga menguasai Bioteknologi. Energi bersih. Komputasi kuantum. Data.
Semua itu sedang menjadi medan perebutan baru antarbangsa.
Banyak negara berkembang gagal bukan karena kekurangan sumber daya alam. Mereka gagal karena tidak memiliki akses pada teknologi yang menentukan masa depan.
Indonesia memahami tantangan ini. Prancis juga memahami tantangan ini. OLeh karena itu, kerja sama kedua negara jauh lebih penting daripada sekadar perdagangan atau investasi.
Yang dipertaruhkan adalah kemampuan membangun generasi masa depan. Ketika universitas bekerja sama. Ketika ilmuwan berbagi pengetahuan.
Ketika mahasiswa bertukar pengalaman. Ketika pusat riset bersama dibangun. Saat itulah fondasi kekuatan jangka panjang mulai diletakkan.
Minyak suatu hari bisa habis. Batu bara suatu hari bisa ditinggalkan.
Tetapi pengetahuan yang tertanam dalam pikiran manusia dapat terus berkembang lintas generasi.
Dan dalam dunia yang semakin ditentukan oleh inovasi, kerja sama Indonesia–Prancis sesungguhnya adalah investasi pada aset paling berharga yang dimiliki bangsa mana pun: sumber daya manusia.
Ketiga, karena dunia membutuhkan jembatan antarperadaban.
Salah satu paradoks terbesar zaman modern adalah ini: teknologi membuat manusia semakin terhubung. Namun secara emosional dan politik, manusia justru semakin terpecah.
Media sosial mempercepat kemarahan. Algoritma memperkuat prasangka. Politik identitas memecah masyarakat. Perang budaya tumbuh di banyak tempat.
Dalam situasi seperti itu, hubungan antarnegara tidak cukup dibangun melalui kontrak ekonomi.
Hubungan harus dibangun melalui pemahaman budaya.
Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia yang demokratis.