Tengah malam di Paris, dalam keheningan, saya merenung kembali.
Mengapa memperdalam kerja sama Indonesia-Perancis menjadi penting. Tiga alasannya.
Pertama, karena dunia sedang berpindah dari hegemoni menuju tripolaritas.
Selama kurang lebih tiga dekade setelah berakhirnya Perang Dingin, dunia hidup dalam apa yang sering disebut sebagai “unipolar moment”. Amerika Serikat menjadi pusat gravitasi utama ekonomi, militer, teknologi, dan politik global.
Namun zaman itu perlahan berakhir.
Kebangkitan Cina, bangkitnya India, kembalinya Rusia sebagai aktor geopolitik, menguatnya negara-negara Teluk, serta semakin pentingnya kekuatan regional seperti Indonesia telah mengubah peta dunia.
Kita sedang memasuki era multipolar. Masalahnya, setiap transisi menuju tata dunia baru hampir selalu diiringi ketidakpastian.
Sejarah mencatat transisi dari dominasi Spanyol ke Inggris, dari Inggris ke Amerika Serikat, selalu diwarnai gesekan, konflik, dan perlombaan kekuatan.
Dalam konteks itulah hubungan Indonesia dan Prancis menjadi strategis. Keduanya bukan negara adidaya. Namun keduanya memiliki legitimasi moral dan kapasitas diplomatik untuk menjadi penyeimbang.
Indonesia adalah jangkar Asia Tenggara. Prancis adalah kekuatan utama Eropa yang memiliki tradisi otonomi strategis.
Ketika dua negara seperti ini bekerja sama, mereka membantu menciptakan ruang bagi diplomasi, bukan dominasi.
Mereka membantu memastikan bahwa dunia baru tidak hanya dibentuk oleh yang paling kuat, tetapi juga oleh yang paling bijaksana.
Kedua, karena kedaulatan masa deapan ditentukan oleh teknologi dan pengetahuan.
Di masa lalu, negara kaya adalah negara yang memiliki emas. Kemudian negara kaya adalah negara yang memiliki pabrik.
Hari ini, negara kaya adalah negara yang menguasai pengetahuan. Kecerdasan buatan. Semikonduktor.