Karena teknologi dapat menghubungkan manusia. Tetapi hanya budaya yang dapat membuat manusia saling memahami.
Dan ketika pemahaman tumbuh, ketakutan berkurang. Ketika ketakutan berkurang, kerja sama menjadi mungkin.
Mungkin inilah bentuk diplomasi paling kuat yang pernah ditemukan manusia: bukan diplomasi senjata, melainkan diplomasi jiwa.
Keenam: Solusi dua negara, Palestina merdeka, Israel aman
Di antara semua tema yang muncul malam itu, tidak ada yang lebih menyentuh hati selain Palestina.
Karena di balik statistik perang terdapat jutaan kehidupan yang nyata. Ada ibu yang kehilangan anak. Ada anak yang kehilangan rumah.
Ada keluarga yang hidup dengan ketakutan setiap hari. Selama lebih dari tujuh dekade, konflik Israel-Palestina menjadi luka terbuka dunia.
Setiap generasi mewarisi trauma generasi sebelumnya. Setiap perang meninggalkan kemarahan baru.
Namun baik Prabowo maupun Macron memilih berbicara tentang harapan.
Harapan itu bernama solusi dua negara. Palestina yang merdeka. Israel yang aman.
Bagi sebagian orang, gagasan itu terdengar semakin sulit diwujudkan. Namun sejarah manusia penuh dengan hal-hal yang dahulu dianggap mustahil.
Perdamaian antara Prancis dan Jerman pernah dianggap mustahil. Berakhirnya apartheid di Afrika Selatan pernah dianggap mustahil.
Runtuhnya Tembok Berlin pernah dianggap mustahil. Tetapi semuanya terjadi. Karena pada akhirnya tidak ada konflik yang lebih kuat daripada kehendak manusia untuk hidup damai.
Solusi dua negara bukan kemenangan Palestina atas Israel. Bukan kemenangan Israel atas Palestina. Ia adalah kemenangan kemanusiaan atas kebencian.
Dan mungkin itulah gagasan paling luhur yang terdengar malam itu di Istana Élysee: bahwa masa depan dunia tidak dibangun oleh mereka yang menang perang, melainkan oleh mereka yang berani menghentikannya.