Sejarah memperlihatkan bahwa negara yang berhasil melompat jauh hampir selalu melakukan investasi besar pada manusianya.
Jepang pasca perang. Korea Selatan. Singapura. Cina.
Mereka membangun manusia terlebih dahulu.
Baru kemudian membangun ekonomi. Karena pada akhirnya sumber daya alam bisa habis. Cadangan minyak bisa menurun.
Tetapi sumber daya manusia yang unggul dapat menciptakan kekayaan baru tanpa batas. Dan itulah investasi paling strategis yang dapat lahir dari hubungan Indonesia dan Prancis.
Kelima: Indonesia dan Prancis sedang membangun aliansi peradaban
Yang paling mengesankan saya malam itu justru bukan pembicaraan tentang ekonomi. Bukan pula soal pertahanan. Melainkan tentang budaya.
Saya masih mengingat ketika orkestra memainkan karya Debussy yang terinspirasi gamelan Jawa.
Ada sesuatu yang simbolis di sana. Seorang komponis Prancis abad ke-19 pernah mendengar bunyi gamelan Nusantara.
Suara itu menyeberangi samudra. Menembus bahasa. Menembus politik. Lalu hidup kembali dalam musik Prancis.
Bukankah itu bentuk dialog peradaban yang paling indah? Macron berbicara tentang Borobudur. Tentang museum.
Tentang sastra. Tentang film. Tentang mode.
Prabowo berbicara tentang Palestina dan kemanusiaan.
Semua itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Prancis sedang bergerak melampaui hubungan negara dan negara.
Yang dibangun adalah hubungan peradaban dengan peradaban. Dalam dunia yang semakin terpolarisasi, hubungan seperti ini menjadi semakin penting.