opini

Mendengar Pidato Prabowo dan Macron di Jamuan Makan Malam

Jumat, 29 Mei 2026 | 13:49 WIB

Kedaulatan bukan lagi slogan politik.

Ia berubah menjadi kebutuhan praktis.

Ketika Macron berbicara mengenai dukungan terhadap agenda kedaulatan Indonesia, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada kerja sama ekonomi.

Saya melihat pengakuan bahwa bangsa-bangsa modern membutuhkan kemampuan berdiri di atas kaki sendiri.

Tentu tidak ada negara yang bisa hidup sendirian. Namun ada perbedaan besar antara bekerja sama dan bergantung.

Bekerja sama adalah pilihan. Bergantung adalah kerentanan.

Dan dalam dunia yang semakin tidak pasti, kemampuan bekerja sama tanpa kehilangan kemandirian mungkin akan menjadi aset paling berharga sebuah bangsa.

Keempat: Kemitraan strategis harus menyentuh pertahanan, teknologi, dan sumber daya manusia

Di abad ke-19, kekuatan sebuah negara diukur dari luas wilayahnya.

Di abad ke-20, kekuatan diukur dari kapasitas industrinya. Namun di abad ke-21, ukuran itu berubah.

Hari ini, negara paling berpengaruh bukan selalu negara yang memiliki wilayah terbesar. Melainkan negara yang menguasai teknologi paling maju.

Yang menguasai data. Yang menguasai inovasi. Yang menguasai kecerdasan buatan.

Oleh karena itu, saya tertarik ketika Macron dan Prabowo sama-sama menekankan pendidikan, riset, sains, teknologi, dan inovasi.

Hubungan Indonesia dan Prancis tidak boleh berhenti pada pembelian pesawat tempur atau kontrak industri. Hubungan itu harus masuk ke laboratorium.

Masuk ke kampus. Masuk ke pusat riset. Masuk ke ruang kelas. Masuk ke pikiran generasi muda.

Halaman:

Tags

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB