opini

Mendengar Pidato Prabowo dan Macron di Jamuan Makan Malam

Jumat, 29 Mei 2026 | 13:49 WIB

Dibangun pada awal abad ke-18, Elysee telah menyaksikan naik turunnya kekaisaran, revolusi, perang dunia, dan lahirnya Eropa modern.

Dari ruangan-ruangan inilah banyak keputusan yang memengaruhi arah sejarah dunia pernah dibuat. Namun malam itu perhatian saya tidak hanya tertuju pada para pemimpin yang hadir.

Di salah satu sudut ruangan berdiri Orkestra Garda Republik Prancis, unit militer elite yang bertugas menjaga Presiden Prancis. Mereka datang dengan seragam militer, tetapi yang mereka bawa bukan senapan. Mereka membawa biola, klarinet, dan cello.

Musik Mozart mengalun lembut.

Lalu karya Debussy yang terinspirasi gamelan Jawa memenuhi ruangan. Ketika lagu Bengawan Solo dimainkan, saya merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Di jantung Paris, di pusat kekuasaan Republik Prancis, sebuah lagu dari tepi Sungai Bengawan mengalun dengan khidmat.

Seolah sejarah sedang berbisik bahwa hubungan antarbangsa tidak hanya dibangun oleh kontrak, senjata, atau perdagangan.

Kadang ia dibangun oleh sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih kuat: rasa hormat terhadap jiwa satu sama lain.

Dan di tengah alunan musik itulah saya mendengar dua pidato yang menurut saya akan dikenang jauh melampaui malam itu sendiri. Mereka bukan sekadar pidato tentang Indonesia dan Prancis. Mereka adalah pidato tentang dunia yang sedang mencari bentuk barunya.

Lama saya merenungkan baik pidato Presiden Perancis Macron dan Presiden Indonesia Prabowo. Saya menemukan enam gagasan penting yang mereka bicarakan.

Pertama: Petingnya jalan ketiga, menolak menjadi satelit kekuatan besar

Ketika Presiden Prancis, Emmanuel Jean-Michel Frederic Macron, berbicara mengenai pentingnya negara-negara yang mampu menjaga kemandirian strategisnya, dan ketika Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang perlunya keseimbangan dunia, saya merasa sedang mendengar gema sejarah yang sangat tua.

Dunia pernah mengalami masa ketika hanya ada dua pilihan. Pada era Perang Dingin, banyak negara dipaksa memilih Washington atau Moskow. Memilih satu berarti memusuhi yang lain.

Namun Indonesia, melalui Soekarno dan Mohammad Hatta, mencoba menawarkan jalan berbeda. Dunia mengenalnya sebagai Gerakan Non-Blok.

Hari ini sejarah seperti berulang dengan wajah yang baru. Kutubnya bukan lagi Amerika Serikat dan Uni Soviet. Kutubnya adalah Amerika Serikat dan Cina.

Halaman:

Tags

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB