Enam gagasan besar yang muncul dari kedua pidato tersebut sesungguhnya bermuara pada satu keyakinan yang sama. Bahwa abad ke-21 tidak harus menjadi abad dominasi. Ia dapat menjadi abad keseimbangan.
Bahwa dunia tidak harus dipimpin oleh rasa takut. Ia dapat dipimpin oleh rasa saling menghormati. Bahwa negara-negara menengah tidak harus menjadi penonton sejarah.
Mereka dapat menjadi penulis sejarah. Indonesia dan Prancis mungkin dipisahkan lebih dari sebelas ribu kilometer.
Mereka lahir dari peradaban yang berbeda. Mereka berbicara dalam bahasa yang berbeda. Namun malam itu saya melihat keduanya berbagi satu mimpi yang sama: membangun dunia yang lebih merdeka, lebih seimbang, dan lebih manusiawi.
Mungkin itulah makna terdalam dari pertemuan di Élysée. Bukan sekadar pertemuan dua presiden. Bukan sekadar jamuan makan malam kenegaraan.
Melainkan pertemuan dua bangsa yang sedang mencari cara agar dunia baru yang lahir dari retaknya tata dunia lama tidak menjadi dunia yang lebih keras, melainkan dunia yang lebih beradab.
Dan sejarah selalu berubah ketika bangsa-bangsa yang cukup berani memilih menjadi jembatan, bukan tembok.
Ketika kekuatan besar sibuk memperebutkan dunia, sejarah diam-diam sedang memberi kesempatan kepada bangsa-bangsa menengah untuk menyelamatkannya
Pada akhirnya, masa depan tidak akan dimiliki oleh bangsa yang paling kuat, melainkan oleh bangsa yang mampu mengubah kerja sama menjadi peradaban.***
Referensi
The World: A Family History of Humanity Penulis: Simon Sebag Montefiore. Penerbit: Weidenfeld & Nicolson. Tahun Terbit: 2022
The Age of the Unthinkable: Why the New World Disorder Constantly Surprises Us and What We Can Do About It. Penulis: Joshua Cooper Ramo. Penerbit: Little, Brown and Company. Tahun Terbit: 2009