Baca Juga: Kontroversi Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Luar Negeri dan Payung Diplomasi Kemandirian
Yang pasti, ramalan datang bukan semata sebagai cerita gaib, melainkan sebagai bahasa simbolik dari kecemasan sosial. Terutama, ketika negara tak lagi fasih menjelaskan keadaan, rakyat mencari makna pada mitos.
Di situlah letak pentingnya membaca ramalan leluhur hari ini. Bukan untuk menelan mentah-mentah semua nubuat sebagai kepastian sejarah, melainkan untuk memahami satu kenyataan pahit; mengapa rakyat lebih mudah mempercayai bisikan masa lalu ketimbang penjelasan resmi dari kekuasaan hari ini?
Ramalan Jayabaya, misalnya, kerap dibaca sebagai tanda datangnya zaman rusak, masa ketika tatanan moral terbalik, kepemimpinan kehilangan wibawa, dan rakyat hidup dalam kebingungan.
Sedangkan Sabdo Palon sering dipahami sebagai suara kultural yang akan kembali muncul ketika tanah Jawa, secara lebih luas Nusantara, telah terlalu jauh meninggalkan akar moral dan spiritualnya.
Terlepas dari perdebatan historis maupun tafsir akademiknya, satu hal tak bisa dibantah, figur-figur ini bertahan dalam kesadaran kolektif publik, khususnya di masyarakat Sunda dan Jawa, karena mereka menawarkan semacam kerangka untuk memahami kekacauan.
Ekonomi boleh saja dipoles dengan angka-angka pertumbuhan. Pemerintah boleh menenangkan publik dengan bahasa stabilitas. Tetapi, di level batin sosial, yang dirasakan rakyat justru hal lain, daya beli yang melemah, daya tahan hidup yang makin rapuh, lapangan pekerjaan yang makin berat, arah kebijakan yang sering tidak konsisten, komunikasi negara yang cenderung defensif, serta elite yang lebih sibuk mengatur citra daripada membenahi kenyataan.
Di atas semua itu, ancaman dari luar seperti perang, krisis energi, gejolak pasar global, datang seperti gelombang yang sewaktu-waktu bisa memperparah keadaan.
Dan dalam situasi seperti ini, ramalan menjadi relevan bukan karena ia magis, tetapi karena realitas terasa makin absurd.
Ketika akal sehat publik tak menemukan jawaban yang meyakinkan dari pejabat aktif, ingatan kultural bergerak mencari perlindungan. Rakyat mulai membaca kembali tanda-tanda lama.
Bukan karena mereka anti-modernitas, tetapi karena modernitas yang dipimpin tanpa kebijaksanaan sering kali justru melahirkan kecemasan baru.
Teknokrasi tanpa nurani hanya akan melahirkan pemerintahan yang rapi di atas kertas, tetapi retak di dalam kenyataan. Di sinilah ramalan leluhur sebenarnya sedang diuji.
Oleh karena itu, membaca Jayabaya atau Sabdo Palon pada hari ini seharusnya tidak berhenti pada rasa takjub mistik.
Yang lebih penting adalah menangkap kritik peradaban di baliknya.
Ramalan-ramalan itu pada dasarnya adalah teguran moral. Ia lahir dari kesadaran bahwa kekuasaan yang menjauh dari keadilan pada akhirnya akan kehilangan legitimasi batinnya.
Artikel Terkait
Khvicha Kvaratskhelia Dari PSG Dinobatkan Jadi Pemain Terbaik Liga Champions
Lima Sila sebagai Lima Luka
Presiden Prabowo Subianto Beri Penghormatan Terakhir Kepada Almarhum Ryamizard Ryacudu
Presiden Prabowo Subianto Bawa Pencapaian Kerja Sama Rp61,25 Triliun Dari Prancis
Allano Lima Umumkan Perpisahan dengan Persija Jakarta