Dan ketika legitimasi batin itu runtuh, negara mungkin masih tampak berdiri, tetapi sesungguhnya sudah kehilangan rohnya.
Inilah yang layak direnungkan Indonesia hari ini. Kita sedang berhadapan dengan gejala yang makin jelas, di mana negara tampak besar secara struktur, tetapi mengecil secara wibawa moral.
Pemerintah masih punya institusi, regulasi, aparat, dan panggung komunikasi. Tetapi semua itu tidak otomatis melahirkan kepercayaan. Sebab kepercayaan tidak lahir dari banyaknya pernyataan resmi. Ia lahir dari konsistensi, keteladanan, keberanian, dan kejujuran.
Sedangkan ramalan, betapapun simboliknya, kadang terasa lebih jujur daripada narasi resmi yang sekedar menenangkan hati dari frustasi.
Dalam konteks ini, ramalan harusnya menjadi cermin, dan jangan menjadi candu.
Oleh karena itu, yang dibutuhkan Indonesia hari ini bukan pemburu ramalan, melainkan pembaca peringatan.
Ramalan leluhur itu tidak perlu diperlakukan sebagai naskah sakral yang menutup masa depan. Ia lebih berguna bila dibaca sebagai alarm kebudayaan. Ia mengingatkan bahwa sebuah negeri bisa tampak baik-baik saja sambil sesungguhnya sedang bergerak menuju kerapuhan.
Sekarang, saatnya kita menunggu sambil menguji, seberapa benar ralaman-ramalan itu, sambil “menonton” tanda-tannda terjadinya perang dunia ke 3 dengan segala efek “gado-gadonya” buat Indonesia.
Apakah ini proses semesta yang harus terjadi, sebagai tuntutan nyata kembalinya proses keseimbangan baru jagat raya, di mana semesta sedang menata ulang dirinya lewat berbagai proses kehancuran?
Wallahu alam.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum IKA PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi Jawa Barat.
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Khvicha Kvaratskhelia Dari PSG Dinobatkan Jadi Pemain Terbaik Liga Champions
Lima Sila sebagai Lima Luka
Presiden Prabowo Subianto Beri Penghormatan Terakhir Kepada Almarhum Ryamizard Ryacudu
Presiden Prabowo Subianto Bawa Pencapaian Kerja Sama Rp61,25 Triliun Dari Prancis
Allano Lima Umumkan Perpisahan dengan Persija Jakarta