Ia juga mengingatkan bahwa teori tidak boleh diperlakukan seperti kitab suci yang berlaku sama di semua tempat.
Baca Juga: Tiga Juta Rumah Yang Wajib Eco-conscious
Indonesia bukan Rusia.
Petani Jawa bukan buruh pabrik Petrograd.
Kondisi masyarakat Indonesia memiliki sejarah, budaya, dan kenyataan yang berbeda.
Oleh karena itu, strategi perjuangan juga harus lahir dari pengalaman rakyat Indonesia sendiri.
Inilah salah satu pesan terpenting dari pidato Tan Malaka di Komintern. Ia tidak menolak teori, tetapi ia menolak menjadikan teori lebih penting daripada rakyat.
Bagi Tan Malaka, perjuangan harus dimulai dari kenyataan yang dihadapi rakyat sehari-hari.
Organisasi harus memahami cara berpikir rakyat, bahasa rakyat, budaya rakyat, dan harapan rakyat.
Tanpa itu, organisasi hanya akan menjadi kelompok kecil yang sibuk berbicara tentang rakyat tanpa benar-benar mendengar rakyat.
Di sinilah letak pentingnya pendidikan organisasi.
Belajar teori memang penting. Membaca sejarah juga penting. Tetapi semuanya harus membantu kita memahami kenyataan yang kita hadapi hari ini.
Bagi gerakan pekerja, pelajaran ini sangat berharga.
Persatuan tidak dibangun dengan menyeragamkan semua orang. Persatuan dibangun dengan menemukan kepentingan bersama di tengah berbagai perbedaan.
Oleh karena itu, organisasi pekerja harus menjadi rumah bagi seluruh pekerja yang ingin memperjuangkan keadilan, tanpa terjebak pada sekat-sekat yang justru melemahkan kekuatan kolektif.
Artikel Terkait
Macron dan Prabowo Mencari Jalan Merdeka di Dunia Yang Terbelah
Tiga Juta Rumah Yang Wajib Eco-conscious
Perempuan Muda Yang Meninggal di Hotel di Kebayoran Baru Jakarta Selatan adalah Korban Pembunuhan
Persib Bandung dan Borneo FC Wakili Indonesia di Turnamen ASEAN Club Championship 2026/2027
Tangis KDM: Air Mata Batin Harapan Rakyat