Bapak Aing, Dalam Tradisi dan Filosofi Sunda

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Rabu, 20 Mei 2026 | 10:39 WIB

Namun, ada satu catatan penting. Kedekatan rakyat kepada pemimpin jangan sampai berubah menjadi kultus personal.

Bapak Aing harus tetap ditempatkan sebagai simbol komunikasi sosial, bukan sebagai pembenaran bahwa pemimpin selalu benar.

Rakyat boleh mencintai pemimpinnya, tetapi tetap harus boleh mengkritiknya. Justru karena disebut bapak, Dedi Mulyadi harus makin siap dikoreksi. Sebab bapak yang baik bukan yang anti-kritik, melainkan yang mau mendengar suara anak-anaknya.***

*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X