Namun, ada satu catatan penting. Kedekatan rakyat kepada pemimpin jangan sampai berubah menjadi kultus personal.
Bapak Aing harus tetap ditempatkan sebagai simbol komunikasi sosial, bukan sebagai pembenaran bahwa pemimpin selalu benar.
Rakyat boleh mencintai pemimpinnya, tetapi tetap harus boleh mengkritiknya. Justru karena disebut bapak, Dedi Mulyadi harus makin siap dikoreksi. Sebab bapak yang baik bukan yang anti-kritik, melainkan yang mau mendengar suara anak-anaknya.***
*Toto Izul Fatah ialah Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA dan Ketua Umum PP Ibadurrahman YLPI Tegalega Sukabumi, Jawa Barat
Artikel Terkait
Film Pesta Babi dan Kisah Pembangunan Tanpa Antropology di Papua
Sandiaga Uno Resmi Menjadi Kakek, Netizen: Welcome to Opa Oma Club
2027: Tahun Penentu Prabowo Subianto Satu Atau Dua Periode
Megawati Terima Kunjungan Duta Besar Kuwait Khalid Jassim Al-Yasin: Bahas Konflik Timur Tengah
Kementerian Kebudayaan Salurkan Lebih Dari Rp9 miliar Untuk Membantu Cagar Budaya dan Masyarakat Kebudayaan