Bapak Aing, Dalam Tradisi dan Filosofi Sunda

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Rabu, 20 Mei 2026 | 10:39 WIB

Yang dibutuhkan bukan sekadar administrasi pemerintahan, melainkan gerakan sosial. Dan gerakan sosial hanya mungkin lahir bila rakyat merasa dilibatkan.

Baca Juga: Gubernur Pramono Anung dan Istrinya Kulineran di Kedai Soto Haji Ali Zen Jalan Otto Iskandardinata Jakarta Timur

Dalam komunikasi politik, ini adalah bentuk partisipasi berbasis kedekatan. Rakyat lebih mudah diajak gotong royong bila merasa pemimpinnya bukan orang asing dan bukan pemimpin yang hadir setiap lima tahun sekali.

Dalam falsafah Sunda, Bapak itu sebagai Pamomong. Dalam ajaran leluhur Sunda, pemimpin ideal bukan sekadar penguasa, tetapi pamomong. Ia mengasuh, mengayomi, menuntun, dan menjaga harmoni.

Pemimpin bukan hanya yang memberi perintah, tetapi yang memberi contoh. Bukan hanya yang memegang aturan, tetapi yang menjaga rasa.

Di sini, Bapak Aing dapat dibaca dalam kerangka silih asah, silih asih, silih asuh.

Baca Juga: Kenapa Malam Jumat Dihubungkan Dengan Acara Bercocok Tanam di Kelambu?

Silih asah berarti pemimpin dan rakyat saling mencerdaskan. Pemimpin tidak boleh merasa paling tahu. Rakyat pun tidak boleh hanya menjadi penonton.

Silih asih berarti hubungan kekuasaan harus dilandasi kasih, bukan sekadar instruksi.

Silih asuh berarti ada tanggung jawab saling menjaga. Pemimpin menjaga rakyat, tetapi rakyat juga menjaga pemimpinnya agar tetap lurus dan tidak mabuk kekuasaan.

Begitu juga dalam Islam, pemimpin adalah "khadim" yang berarti pelayan. Dengan demikian, makna Bapak Aing bisa dibaca juga sebagai pengingat bahwa pemimpin bukanlah majikan bagi rakyat. Pemimpin adalah khadim, pelayan umat.

Dalam Islam, seorang pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpinnya.

Oleh karena itu, kedekatan dengan rakyat bukan sekadar gaya komunikasi, tetapi bagian dari etika kepemimpinan.

Pemimpin harus tahu lapar rakyatnya, takut anak-anaknya tidak sekolah, cemas petaninya rugi, gelisah ibunya menangis, dan paham mengapa rakyat kecil sering tidak punya bahasa untuk mengadu.

Di sinilah letak ujian sebenarnya. Panggilan Bapak Aing adalah kehormatan, tetapi sekaligus beban amanah. Ia bukan mahkota untuk dipamerkan, melainkan janji yang harus dibayar dengan kerja nyata.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB

Hantu Selembar Ijazah

Senin, 6 Juli 2026 | 07:06 WIB

Melampaui Hukum

Rabu, 1 Juli 2026 | 08:26 WIB

Negara Bukan Pemilik Tanah Adat

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:05 WIB
X