Sebagian kritikus berpendapat bahwa strategi visual di Instagram justru berisiko memperkuat stereotip lama.
Menurut mereka, ketika politisi perempuan terus menampilkan citra keibuan, religius, atau domestik, mereka sebenarnya tetap bergerak dalam kerangka budaya patriarkal yang sama.
Kritik lain bahkan lebih jauh.
Dominasi politik visual dianggap berpotensi menggeser perhatian publik dari kualitas kebijakan menuju kualitas pencitraan. Dalam situasi seperti itu, kandidat yang paling menarik secara visual bisa memperoleh keuntungan lebih besar dibanding kandidat yang paling kompeten.
Kedua kritik tersebut layak dipertimbangkan. Namun penelitian ini menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.
Yang terjadi bukanlah reproduksi pasif terhadap stereotip.
Yang terjadi adalah proses negosiasi aktif terhadap stereotip.
Para politisi perempuan menggunakan simbol budaya yang telah dikenal publik sebagai sumber legitimasi untuk memperluas ruang kepemimpinan mereka.
Selain itu, penelitian ini juga tidak menemukan bahwa citra menggantikan substansi.
Sebaliknya, citra sering kali berfungsi sebagai pintu masuk menuju substansi.
Dalam ekosistem digital yang sangat padat informasi, visual menjadi sarana awal untuk menarik perhatian, sementara gagasan tetap menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan dukungan publik.
Oleh karena itu, persoalannya bukan memilih antara citra dan substansi.
Persoalannya adalah bagaimana keduanya bekerja bersama secara efektif.
Sebagai seseorang yang selama puluhan tahun mengamati perilaku pemilih Indonesia, saya berkali-kali menemukan satu pelajaran yang sama.
Politik sesungguhnya bukan hanya pertarungan program.