Riset ini menunjukkan bahwa generasi baru politisi perempuan Indonesia mulai menolak pilihan palsu tersebut.
Mereka membangun jalan ketiga.
Mereka menunjukkan bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang efektif tanpa harus meninggalkan identitas kemanusiaannya.
Di situlah makna terdalam penelitian ini.
Demokrasi yang matang bukanlah demokrasi yang memaksa setiap orang menjadi seragam.
Demokrasi yang matang adalah demokrasi yang memberi ruang bagi beragam identitas untuk tampil, bernegosiasi, dan berkontribusi dalam kehidupan publik.
Pada akhirnya, masa depan politik tidak ditentukan oleh siapa yang paling berhasil menguasai panggung.
Ia ditentukan oleh siapa yang paling mampu mengubah keaslian dirinya menjadi kepercayaan publik.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari penelitian ini: pemilih masa kini tidak lagi mencari pemimpin yang kuat atau pemimpin yang manusiawi. Mereka mencari pemimpin yang mampu menjadi keduanya sekaligus.
Di abad digital, kekuasaan mungkin lahir dari citra, tetapi hanya kepercayaan yang mampu membuatnya bertahan.***
Referensi
Eriyanto & Denny Januar Ali. (2026). Spectrum of Gendered Self-Presentation and Visual Politics: A Study of Indonesian Women Politicians’ Campaigns on Instagram. Cogent Arts & Humanities. Taylor & Francis Group.
Simone de Beauvoir. (1949). The Second Sex. Paris: Gallimard.
Sheryl Sandberg. (2013). Lean In: Women, Work, and the Will to Lead. New York: Alfred A. Knopf.
Artikel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Mall of Indonesia Hadirkan Ultraman
Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Lolos ke Babak 32
Piala Dunia 2026: Bosnia-Herzegovina Hidupkan Peluang Lolos Setelah Menang Melawan Qatar
Piala Dunia 2026: Brasil dan Maroko Lolos ke Babak 32 Besar
PT KAI Meluncurkan Rel Ekonomi Rakyat Mellaui KA Cikuray di Garut