Temuan ini mengejutkan karena selama bertahun-tahun teori politik modern cenderung menganggap profesionalisme dan identitas personal sebagai dua kutub yang berbeda.
Penelitian ini menunjukkan hal yang sebaliknya. Di era Instagram, publik tidak hanya ingin mengetahui apakah seorang pemimpin mampu bekerja. Publik juga ingin mengetahui siapa manusia yang bekerja di balik jabatan itu.
Yang dicari bukan hanya kompetensi, melainkan kompetensi yang memiliki wajah kemanusiaan.
Pengalaman pribadi saya sebagai konsultan politik sejak Pemilu 2004 membuat temuan ini terasa sangat akrab.
Selama lebih dari dua dekade mengamati perilaku pemilih Indonesia, saya berkali-kali menemukan bahwa perempuan kandidat hampir selalu dinilai dengan ukuran yang berbeda dibandingkan laki-laki.
Ketika seorang kandidat laki-laki tampil tegas, publik melihatnya sebagai tanda kepemimpinan.
Namun ketika karakter yang sama muncul pada kandidat perempuan, tidak jarang muncul pertanyaan tambahan mengenai keramahan, keibuan, atau kesantunannya.
Dalam berbagai diskusi kelompok dan survei yang saya ikuti, saya menyaksikan bagaimana pemilih sering kali menuntut dua hal sekaligus dari seorang perempuan pemimpin: ia harus kuat, tetapi tidak boleh terasa terlalu keras; ia harus dekat dengan rakyat, tetapi tetap terlihat berwibawa.
Karena itu, ketika penelitian ini menemukan pola identitas hibrida di Instagram, saya tidak melihatnya sebagai sekadar strategi media sosial.
Saya melihatnya sebagai jawaban kreatif terhadap realitas sosial yang telah lama hidup dalam alam bawah sadar politik Indonesia.
Untuk memahami isu ini lebih dalam, ada dua buku yang sangat penting untuk dibaca.
Buku pertama adalah The Second Sex karya Simone de Beauvoir, pertama kali diterbitkan pada tahun 1949.
Buku ini merupakan salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah pemikiran modern mengenai perempuan.
Gagasan paling relevan dari buku ini adalah bahwa identitas perempuan bukan semata-mata produk biologis, melainkan juga hasil konstruksi sosial yang dibentuk oleh sejarah, budaya, dan relasi kekuasaan.
Beauvoir menunjukkan bahwa perempuan selama berabad-abad ditempatkan sebagai “yang lain”, yaitu pihak yang selalu didefinisikan melalui standar yang dibuat oleh laki-laki.
Artikel Terkait
Mall of Indonesia Hadirkan Ultraman
Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Lolos ke Babak 32
Piala Dunia 2026: Bosnia-Herzegovina Hidupkan Peluang Lolos Setelah Menang Melawan Qatar
Piala Dunia 2026: Brasil dan Maroko Lolos ke Babak 32 Besar
PT KAI Meluncurkan Rel Ekonomi Rakyat Mellaui KA Cikuray di Garut