Riset Rentang Citra Politisi Perempuan Indonesia di Instagram

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 26 Juni 2026 | 08:28 WIB

Di situlah teori double bind menemukan relevansinya yang paling nyata dalam politik digital Indonesia.

Temuan pertama: Polisi perempuan membangun identitas hibrida dan netra gender

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan lebih memilih netral gender. Mereka tidak ingin terlalu feminin (tradisional), tetapi juga tidak ingin terlalu maskulin. Berada di tengah-tengah. Ini dilakukan dengan lebih mengedepankan gambar yg memperlihatkan sedang bekerja, profesional dan ssbagainya

Juga politisi perempuan Indonesia tidak memilih antara identitas tradisional dan identitas profesional. Mereka menggabungkan keduanya secara sadar dan strategis.

Dalam satu unggahan mereka tampil memimpin rapat, mengawasi proyek pembangunan, atau berbicara di forum kebijakan publik.

Dalam unggahan lain mereka memperlihatkan kehidupan keluarga, aktivitas keagamaan, atau keterlibatan dalam tradisi budaya lokal.

Kedua citra itu tidak tampil sebagai lawan. Keduanya hadir sebagai pasangan yang saling melengkapi.

Temuan ini penting karena selama bertahun-tahun banyak teori politik mengasumsikan bahwa perempuan harus memilih salah satu jalan: menjadi pemimpin yang kuat atau menjadi perempuan yang diterima budaya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa asumsi tersebut semakin kehilangan relevansinya.

Politisi perempuan Indonesia justru membangun model kepemimpinan baru yang mampu memadukan keduanya secara simultan.

Mereka memperoleh legitimasi budaya tanpa kehilangan legitimasi profesional.

Mereka diterima sebagai bagian dari masyarakat tanpa kehilangan otoritas sebagai pemimpin.

Dalam perspektif komunikasi politik, strategi ini merupakan bentuk adaptasi yang sangat cerdas terhadap realitas sosial Indonesia yang kompleks.

Namun identitas hibrida ini juga menyimpan ketegangan: sejauh mana ia benar-benar membebaskan, dan sejauh mana ia justru memperhalus tuntutan lama agar perempuan selalu menyesuaikan diri dengan norma mayoritas?

Temuan kedua: Instagram menjadi arena politik visual yang mandiri

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB
X