Baca Juga: Piala Dunia 2026: Afrika Selatan Temani Meksiko ke Babak 32 Besar
Penelitian ini berangkat dari pertanyaan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya sangat mendasar: bagaimana politisi perempuan Indonesia membangun citranya di Instagram selama masa kampanye politik?
Pertanyaan ini penting karena dalam dua dekade terakhir terjadi perubahan besar dalam komunikasi politik. Jika dahulu citra politik dibentuk terutama oleh televisi, surat kabar, dan radio, kini media sosial menjadi arena utama pembentukan persepsi publik.
Instagram memiliki posisi yang unik. Ia adalah medium yang bertumpu pada kekuatan visual. Di dalamnya, foto dan video sering kali berbicara lebih cepat daripada pidato dan program kerja.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods yang menggabungkan analisis isi kuantitatif dan analisis kualitatif.
Baca Juga: Pelanggan Kereta Wisata Panoramic Naik 60-an Persen
Secara kuantitatif, penelitian menghitung frekuensi berbagai kategori visual yang muncul dalam unggahan para politisi perempuan.
Secara kualitatif, penelitian menafsirkan makna simbolik di balik visual tersebut, mulai dari pilihan pakaian, ekspresi wajah, interaksi sosial, latar kegiatan, hingga narasi yang menyertai unggahan.
Sampel dipilih menggunakan purposive sampling terhadap politisi perempuan Indonesia yang aktif dalam kontestasi politik dan memiliki akun Instagram yang berpengaruh.
Ribuan unggahan selama periode kampanye dianalisis melalui proses pengodean sistematis dan diuji reliabilitasnya oleh beberapa penilai independen.
Total posting yang diteliti adalah: 5.890 posting dari 97 politisi (anggota DPR) perempuan.
Kekuatan metodologi ini terletak pada kemampuannya menjembatani angka dan makna. Penelitian tidak hanya menunjukkan apa yang paling sering ditampilkan, tetapi juga menjelaskan mengapa visual tertentu dipilih dan bagaimana visual tersebut bekerja dalam membentuk persepsi pemilih.
Dengan demikian, penelitian ini bukan sekadar studi tentang media sosial. Ia adalah studi tentang bagaimana kekuasaan, identitas, budaya, dan teknologi bertemu dalam satu ruang yang sama.
Sebagai peneliti, saya menyadari keterbatasan subjektivitas ulasan ini, namun transparansi data sampel, melibatkan politisi lintas partai dari level daerah hingga nasional, menjadi jangkar yang menjaga objektivitas temuan empiris kami.
Untuk memahami hasil penelitian ini, kita perlu memahami terlebih dahulu teori yang menjadi fondasinya: teori double bind.
Artikel Terkait
Mall of Indonesia Hadirkan Ultraman
Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Lolos ke Babak 32
Piala Dunia 2026: Bosnia-Herzegovina Hidupkan Peluang Lolos Setelah Menang Melawan Qatar
Piala Dunia 2026: Brasil dan Maroko Lolos ke Babak 32 Besar
PT KAI Meluncurkan Rel Ekonomi Rakyat Mellaui KA Cikuray di Garut