Riset Rentang Citra Politisi Perempuan Indonesia di Instagram

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Jumat, 26 Juni 2026 | 08:28 WIB

Oleh karena itu, simbol budaya dan religius menjadi bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Namun penelitian ini menemukan sesuatu yang lebih menarik.

Simbol-simbol tersebut hampir selalu dipadukan dengan representasi profesionalisme.

Foto dalam kegiatan budaya sering disandingkan dengan aktivitas pelayanan publik.

Foto dalam kegiatan keagamaan sering diikuti dokumentasi kerja lapangan atau aktivitas pemerintahan.

Kombinasi ini menciptakan pesan yang sangat kuat.

Pemimpin yang baik bukan hanya dekat dengan nilai-nilai masyarakat, tetapi juga mampu bekerja secara efektif untuk masyarakat.

Di sinilah letak kecanggihan strategi komunikasi politik perempuan Indonesia yang berhasil dipetakan oleh penelitian ini.

Analisis terhadap 5.890 posting dari 97 politisi (anggota dpr) perempuan, menemukan bahwa 84,54 persen unggahan bersifat personalisasi.

Namun personalisasi itu tidak didominasi oleh foto keluarga atau kehidupan pribadi. Yang paling dominan justru personalisasi profesional: rapat, kunjungan kerja, pelayanan publik, dan aktivitas resmi politik.

Sedangkan konten emosional dan keluarga hanya muncul secara selektif. Bahkan ekspresi gagasan dan posisi kebijakan merupakan kategori yang paling jarang ditemukan.

Temuan ini menunjukkan bahwa politisi perempuan Indonesia lebih memilih membangun legitimasi melalui citra “sedang bekerja” daripada melalui narasi kehidupan pribadi.

Di luar tiga temuan utama tersebut, ada satu pola yang sangat menarik. Semakin profesional citra yang ditampilkan seorang politisi perempuan, semakin besar pula kebutuhan untuk menampilkan sisi personal dan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, profesionalisme ternyata tidak menggantikan kedekatan emosional. Justru keduanya tumbuh bersama.

Dalam banyak kasus, unggahan yang memperlihatkan aktivitas kepemimpinan memperoleh makna yang lebih kuat ketika disandingkan dengan narasi keluarga, kegiatan sosial, atau momen religius.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Tak Cukup Ashabiyah Hambalang

Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Ke Baduy Saja, Tak Perlu ke Singapura

Selasa, 21 Juli 2026 | 18:57 WIB

Ketika Sepak Bola Menjadi Sejenis Agama Modern

Senin, 20 Juli 2026 | 12:48 WIB

Rezeki Yang Menular

Senin, 20 Juli 2026 | 09:24 WIB

Simpul Nominee Rumah Sentul

Kamis, 16 Juli 2026 | 08:55 WIB

Jawaban Awal Seputar Jaksa

Sabtu, 11 Juli 2026 | 07:22 WIB

“Seandainya saya Jaksa Agung”

Kamis, 9 Juli 2026 | 14:12 WIB

Mengapa Manusia Suka Menonton Sepak Bola?

Selasa, 7 Juli 2026 | 06:43 WIB
X