Penelitian ini juga menemukan bahwa Instagram telah mengubah hubungan antara politisi perempuan dan publik.
Pada masa lalu, media massa tradisional berfungsi sebagai penjaga gerbang informasi. Citra seorang politisi sangat bergantung pada bagaimana wartawan, editor, atau stasiun televisi membingkai dirinya.
Kini situasinya berubah. Instagram memungkinkan politisi perempuan mengendalikan narasinya sendiri.
Mereka memilih foto yang akan ditampilkan. Mereka menentukan sudut kamera. Mereka mengatur ritme komunikasi. Mereka memutuskan pesan apa yang ingin ditekankan kepada publik.
Perubahan ini sangat penting karena perempuan selama bertahun-tahun sering mengalami bias representasi dalam media konvensional.
Tidak jarang perhatian publik lebih banyak diarahkan pada penampilan fisik dibandingkan kompetensi dan gagasan mereka.
Instagram memberikan ruang yang lebih luas untuk mengatasi keterbatasan tersebut.
Melalui media sosial, politisi perempuan dapat membangun identitas politik yang lebih utuh dan lebih kompleks.
Mereka tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cara orang lain mendefinisikan diri mereka.
Mereka memiliki kesempatan untuk mendefinisikan dirinya sendiri.
Temuan ketiga: Simbol budaya dan religi menjadi modal politik
Temuan ketiga menunjukkan bahwa simbol budaya dan religius memainkan peran penting dalam komunikasi politik perempuan Indonesia.
Pakaian adat, kegiatan keagamaan, interaksi keluarga, dan aktivitas sosial bukan sekadar dekorasi visual.
Semua itu berfungsi sebagai modal simbolik untuk membangun kepercayaan publik.
Dalam masyarakat yang sangat beragam seperti Indonesia, pemilih tidak hanya mencari kompetensi. Mereka juga mencari kedekatan nilai.
Artikel Terkait
Mall of Indonesia Hadirkan Ultraman
Piala Dunia 2026: Swiss dan Kanada Lolos ke Babak 32
Piala Dunia 2026: Bosnia-Herzegovina Hidupkan Peluang Lolos Setelah Menang Melawan Qatar
Piala Dunia 2026: Brasil dan Maroko Lolos ke Babak 32 Besar
PT KAI Meluncurkan Rel Ekonomi Rakyat Mellaui KA Cikuray di Garut