opini

Riset Rentang Citra Politisi Perempuan Indonesia di Instagram

Jumat, 26 Juni 2026 | 08:28 WIB

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Afrika Selatan Temani Meksiko ke Babak 32 Besar

Penelitian ini berangkat dari pertanyaan yang tampak sederhana, namun sesungguhnya sangat mendasar: bagaimana politisi perempuan Indonesia membangun citranya di Instagram selama masa kampanye politik?

Pertanyaan ini penting karena dalam dua dekade terakhir terjadi perubahan besar dalam komunikasi politik. Jika dahulu citra politik dibentuk terutama oleh televisi, surat kabar, dan radio, kini media sosial menjadi arena utama pembentukan persepsi publik.

Instagram memiliki posisi yang unik. Ia adalah medium yang bertumpu pada kekuatan visual. Di dalamnya, foto dan video sering kali berbicara lebih cepat daripada pidato dan program kerja.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods yang menggabungkan analisis isi kuantitatif dan analisis kualitatif.

Baca Juga: Pelanggan Kereta Wisata Panoramic Naik 60-an Persen

Secara kuantitatif, penelitian menghitung frekuensi berbagai kategori visual yang muncul dalam unggahan para politisi perempuan.

Secara kualitatif, penelitian menafsirkan makna simbolik di balik visual tersebut, mulai dari pilihan pakaian, ekspresi wajah, interaksi sosial, latar kegiatan, hingga narasi yang menyertai unggahan.

Sampel dipilih menggunakan purposive sampling terhadap politisi perempuan Indonesia yang aktif dalam kontestasi politik dan memiliki akun Instagram yang berpengaruh.

Ribuan unggahan selama periode kampanye dianalisis melalui proses pengodean sistematis dan diuji reliabilitasnya oleh beberapa penilai independen.

Total posting yang diteliti adalah: 5.890 posting dari 97 politisi (anggota DPR) perempuan.

Kekuatan metodologi ini terletak pada kemampuannya menjembatani angka dan makna. Penelitian tidak hanya menunjukkan apa yang paling sering ditampilkan, tetapi juga menjelaskan mengapa visual tertentu dipilih dan bagaimana visual tersebut bekerja dalam membentuk persepsi pemilih.

Dengan demikian, penelitian ini bukan sekadar studi tentang media sosial. Ia adalah studi tentang bagaimana kekuasaan, identitas, budaya, dan teknologi bertemu dalam satu ruang yang sama.

Sebagai peneliti, saya menyadari keterbatasan subjektivitas ulasan ini, namun transparansi data sampel, melibatkan politisi lintas partai dari level daerah hingga nasional, menjadi jangkar yang menjaga objektivitas temuan empiris kami.

Untuk memahami hasil penelitian ini, kita perlu memahami terlebih dahulu teori yang menjadi fondasinya: teori double bind.

Halaman:

Tags

Terkini

Main Seperti Planga-plongo, Messi Borong Dua Gol

Selasa, 23 Juni 2026 | 08:15 WIB

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam, Waktunya Pejabat Hijrah

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:25 WIB

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB