Politik adalah pertarungan makna.
Dalam berbagai survei nasional yang saya lakukan sejak era Reformasi, saya melihat bahwa pemilih tidak hanya memilih berdasarkan kebijakan. Mereka juga memilih berdasarkan persepsi mengenai siapa yang layak dipercaya.
Dahulu persepsi itu dibangun melalui televisi dan surat kabar.
Kini persepsi itu dibangun melalui layar ponsel yang berada hanya beberapa sentimeter dari wajah kita.
Ketika meneliti Instagram para politisi perempuan Indonesia, saya melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar strategi kampanye.
Saya melihat sebuah proses sejarah.
Saya melihat perempuan Indonesia sedang membangun definisi baru mengenai kepemimpinan di ruang digital.
Mereka tidak menunggu izin untuk hadir.
Mereka hadir.
Mereka tidak meminta definisi baru tentang kepemimpinan.
Mereka menciptakannya.
Di balik setiap foto yang tampak sederhana, berlangsung percakapan panjang antara budaya, identitas, kekuasaan, dan masa depan demokrasi.
Penelitian ini pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang Instagram.
Ia berbicara tentang perjalanan panjang perempuan untuk memperoleh ruang yang setara dalam percakapan publik.
Selama berabad-abad, perempuan sering diminta memilih antara diterima atau berpengaruh, antara dicintai atau dihormati, antara menjadi diri sendiri atau memenuhi harapan masyarakat.