Oleh Denny JA
Wartapesona.com - Malam itu, seorang politisi perempuan baru saja menuntaskan pidato kampanyenya di hadapan ribuan warga.
Ia berbicara tentang lapangan kerja, pendidikan, dan masa depan daerahnya. Tepuk tangan bergema panjang.
Namun beberapa jam kemudian, ketika membuka Instagram, ia menemukan kenyataan yang berbeda.
Baca Juga: Serombmngan Perempuan Pedagang Berjuang Sejak Malam dari Stasiun Maja Banten
Program kerjanya nyaris tak dibahas.
Yang ramai justru warna jilbabnya. Cara ia tersenyum. Bentuk pakaiannya. Bahkan status keluarganya.
Saat itulah ia menyadari sebuah kenyataan yang jarang diucapkan secara terbuka: bagi banyak perempuan dalam politik, kompetensi sering kali harus terlebih dahulu melewati pengadilan citra sebelum sempat dinilai sebagai gagasan.
Di era media sosial, pertarungan politik tidak hanya berlangsung di parlemen, ruang rapat, atau panggung kampanye.
Baca Juga: Gubernur Matius D. Fakhiri Berencana Menjadikan Gedung Sarinah di KotaJayapura Pusat Wisata Belanja
Ia berlangsung di layar telepon.
Dan sering kali, nasib seorang politisi perempuan ditentukan oleh bagaimana ia mampu mengelola keduanya sekaligus.
Pada Juni 2026, jurnal internasional Cogent Arts & Humanities yang diterbitkan oleh Taylor & Francis Group memuat artikel berjudul Spectrum of Gendered Self-Presentation and Visual Politics: A Study of Indonesian Women Politicians’ Campaigns on Instagram.
Artikel ini ditulis oleh Eriyanto dari Universitas Indonesia bersama saya, Denny JA.