Oleh Denny JA
WartaPesosna.com - Dalam beberapa hari terakhir, gelombang demonstrasi mahasiswa kembali meluas di berbagai kota.
Dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Solo, Pekanbaru, hingga Makassar, mahasiswa turun ke jalan membawa satu pesan yang sama: ada keresahan yang makin besar terhadap arah kebijakan negara.
Di Jakarta, aksi itu bahkan mengusung tagar #MenujuIndonesiaBangkrut.
Baca Juga: Bus TransJakarta Tabrak Pembatas Jalur di Sekitar Halte Cikoko Cawang Bikin Macet
Mereka memprotes kenaikan biaya hidup. Mereka menyoroti harga energi. Mereka mempertanyakan efektivitas sejumlah program besar pemerintah yang dianggap membebani APBN. Mereka mengkritik semakin luasnya keterlibatan militer dalam jabatan sipil.
Sebagian tuntutan terdengar keras. Sebagian slogan terdengar emosional. Tetapi di balik semua itu, saya melihat sesuatu yang lebih mendasar: kegelisahan rakyat yang ingin didengar.
Saya teringat pesan seorang sahabat lama beberapa malam lalu.
Ia bukan politikus. Ia bukan ekonom. Ia hanya seorang ayah dengan dua anak yang masih sekolah.
Pesannya pendek. “Bang, saya tidak terlalu mengerti politik. Saya hanya ingin tahu satu hal. Apakah Indonesia baik-baik saja?”
Saya terdiam cukup lama.
Di televisi, para ekonom memperdebatkan defisit fiskal. Di media sosial, para aktivis memperingatkan ancaman krisis. Di jalan-jalan, mahasiswa meneriakkan tuntutan perubahan.
Tetapi di balik semua itu, saya membayangkan seorang ayah yang tidak sedang memikirkan teori demokrasi. Ia hanya ingin memastikan anak-anaknya masih memiliki masa depan.