Meluasnya Protes Mahasiswa dan Ujian Kesabaran Konstitusional

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 22 Juni 2026 | 09:05 WIB

Baca Juga: Piala Dunia 2026: Spanyol Memimpin Klasemen Grup H Setelah Menang Melawan Arab Saudi

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hanya tentang politik. Ia tentang harapan.

Di titik inilah demokrasi diuji. Kritik terhadap pemerintah adalah kebutuhan demokrasi. Namun menjaga stabilitas negara juga kebutuhan demokrasi.

Bangsa yang sehat harus mampu melakukan keduanya sekaligus: mendengar kritik tanpa membungkam, dan mengoreksi kekuasaan tanpa merusak konsolidasi demokrasi yang menjatuhkan presiden di tengah jalan, setiap kali kecewa.

Dalam sejarah dunia, banyak negara runtuh bukan karena rakyat kehilangan hak untuk mengkritik. Mereka runtuh karena kehilangan kesepakatan bersama tentang aturan yang menjaga kritik agar tidak berubah menjadi rusaknya kelembagaan politik.

Baca Juga: Tentara Israel Membakar Bendera Amerika setelah Presiden Donald Trump Berdamai dengan Iran

Saya merenungkan apa yang menjadi isu kritik beberapa bulan terakhir di aneka podcast, media sosial, fokus group discussion hingga aksi protes mahasiswa.

Untuk isu ekonomi, tiga kritik kini paling sering menjadi ibu kandung keresahan publik.

Pertama, kesulitan mencari kerja, meningkatnya biaya hidup dan tekanan harga energi.

Meskipun harga BBM bersubsidi masih dipertahankan, berbagai jenis BBM non-subsidi mengalami kenaikan yang dirasakan langsung oleh kelas menengah dan dunia usaha.

Kenaikan biaya transportasi merambat ke harga barang dan jasa. Bagi keluarga yang hidup dari gaji bulanan, persoalannya sederhana: pendapatan tidak naik secepat pengeluaran.

Di atas kertas, inflasi mungkin masih bisa dijelaskan dengan angka. Tetapi di dapur rumah tangga, inflasi terasa sebagai pengurangan martabat: susu anak ditunda, lauk dipilih lebih murah, rencana sekolah dihitung ulang.

Oleh karena itu, tuntutan mahasiswa agar pemerintah lebih serius mengendalikan harga kebutuhan pokok dan biaya energi tidak boleh dianggap sekadar suara jalanan. Ia adalah jeritan ekonomi sehari-hari.

Kritik kedua menyangkut efektivitas belanja negara, khususnya program-program berskala besar yang menyerap anggaran sangat besar.

Program makan bergizi gratis (MBG) lahir dari niat mulia. Tidak ada bangsa yang dapat maju jika anak-anaknya mengalami kekurangan gizi. Negara yang serius membangun masa depan memang harus memulai dari tubuh dan otak generasi mudanya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam, Waktunya Pejabat Hijrah

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:25 WIB

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB

Amar Brkic, Garuda Muda dari Frankfurt

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:57 WIB
X