Baca Juga: Piala Dunia 2026: Spanyol Memimpin Klasemen Grup H Setelah Menang Melawan Arab Saudi
Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hanya tentang politik. Ia tentang harapan.
Di titik inilah demokrasi diuji. Kritik terhadap pemerintah adalah kebutuhan demokrasi. Namun menjaga stabilitas negara juga kebutuhan demokrasi.
Bangsa yang sehat harus mampu melakukan keduanya sekaligus: mendengar kritik tanpa membungkam, dan mengoreksi kekuasaan tanpa merusak konsolidasi demokrasi yang menjatuhkan presiden di tengah jalan, setiap kali kecewa.
Dalam sejarah dunia, banyak negara runtuh bukan karena rakyat kehilangan hak untuk mengkritik. Mereka runtuh karena kehilangan kesepakatan bersama tentang aturan yang menjaga kritik agar tidak berubah menjadi rusaknya kelembagaan politik.
Baca Juga: Tentara Israel Membakar Bendera Amerika setelah Presiden Donald Trump Berdamai dengan Iran
Saya merenungkan apa yang menjadi isu kritik beberapa bulan terakhir di aneka podcast, media sosial, fokus group discussion hingga aksi protes mahasiswa.
Untuk isu ekonomi, tiga kritik kini paling sering menjadi ibu kandung keresahan publik.
Pertama, kesulitan mencari kerja, meningkatnya biaya hidup dan tekanan harga energi.
Meskipun harga BBM bersubsidi masih dipertahankan, berbagai jenis BBM non-subsidi mengalami kenaikan yang dirasakan langsung oleh kelas menengah dan dunia usaha.
Kenaikan biaya transportasi merambat ke harga barang dan jasa. Bagi keluarga yang hidup dari gaji bulanan, persoalannya sederhana: pendapatan tidak naik secepat pengeluaran.
Di atas kertas, inflasi mungkin masih bisa dijelaskan dengan angka. Tetapi di dapur rumah tangga, inflasi terasa sebagai pengurangan martabat: susu anak ditunda, lauk dipilih lebih murah, rencana sekolah dihitung ulang.
Oleh karena itu, tuntutan mahasiswa agar pemerintah lebih serius mengendalikan harga kebutuhan pokok dan biaya energi tidak boleh dianggap sekadar suara jalanan. Ia adalah jeritan ekonomi sehari-hari.
Kritik kedua menyangkut efektivitas belanja negara, khususnya program-program berskala besar yang menyerap anggaran sangat besar.
Program makan bergizi gratis (MBG) lahir dari niat mulia. Tidak ada bangsa yang dapat maju jika anak-anaknya mengalami kekurangan gizi. Negara yang serius membangun masa depan memang harus memulai dari tubuh dan otak generasi mudanya.
Artikel Terkait
Israel diduga Menekan Meta agar Menyensor Konten Yang Menguntungkan Iran
Serangan Besar Rusia Timbulkan Ledakan dan Kebakaran di Ukraina
Gubernur Jakarta Pramono Anung Mencanangkan Pembangunan Pedestrian Deck di Dukuh Atas
Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat
MotoGP 2026: Marco Bezzecchi Masih Memimpin Klasemen Setelah Marc Marquez Memenangi GP Ceko