Meluasnya Protes Mahasiswa dan Ujian Kesabaran Konstitusional

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Senin, 22 Juni 2026 | 09:05 WIB

Demokrasi berubah menjadi arena pertarungan elite. Konstitusi memang menyediakan jalan keluar bagi pelanggaran berat. Tetapi di luar keadaan luar biasa itu, penghormatan terhadap masa jabatan adalah penghormatan terhadap keputusan rakyat sendiri.

Dua buku memperkaya perspektif ini.

Pertama, How Democracies Die karya Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt.

Buku ini lahir dari kegelisahan dua ilmuwan politik Harvard terhadap kemunduran demokrasi di berbagai negara. Salah satu gagasan terpentingnya adalah bahwa demokrasi sering tidak mati melalui kudeta militer, melainkan melalui erosi bertahap terhadap norma demokrasi.

Levitsky dan Ziblatt menunjukkan bahwa stabilitas demokrasi bergantung bukan hanya pada aturan hukum, tetapi juga pada kesediaan para aktor politik menghormati aturan tidak tertulis.

Salah satu norma penting adalah menerima hasil pemilu dan tidak menggunakan setiap kesempatan politik untuk menggulingkan lawan.

Ketika kompetisi politik berubah menjadi perang total, demokrasi kehilangan kemampuan untuk bertahan.

Dalam konteks Indonesia, pesan ini sangat relevan. Kritik harus terus hidup, tetapi penghormatan terhadap proses konstitusional juga harus dijaga.

Buku kedua adalah The People vs. Democracy karya Yascha Mounk.

Mounk menjelaskan paradoks zaman modern. Di satu sisi masyarakat menginginkan demokrasi. Di sisi lain kepercayaan terhadap institusi demokrasi justru menurun.

Ketika ketidakpuasan ekonomi dan politik meningkat, muncul godaan mencari solusi instan yang sering kali mengabaikan prosedur demokrasi.

Mounk memperingatkan bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan pemilu yang bebas. Demokrasi juga membutuhkan institusi yang stabil dan penghormatan terhadap aturan main.

Kemarahan publik harus diterjemahkan menjadi reformasi, bukan penghancuran institusi.

Dalam masyarakat yang matang, kritik yang keras justru berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap konstitusi. Itulah cara demokrasi memperbaiki dirinya tanpa menghancurkan fondasinya sendiri.

Saya menulis esai ini bukan sebagai orang yang selalu setuju dengan pemerintah. Dalam hidup saya, saya pernah mengkritik banyak kebijakan. Saya pernah berdiri bersama mereka yang menuntut perubahan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: IRA WP

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kapolri dan Makam BJ Habibie Yang Terlewat

Minggu, 21 Juni 2026 | 19:11 WIB

Tak Kunjung Selesai

Sabtu, 20 Juni 2026 | 08:09 WIB

Doaku Untuk Presidenku, Solusi Lewat Jalan Sunyi

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:06 WIB

Sunda Dalam Angka, Etika, dan Budaya

Kamis, 18 Juni 2026 | 11:13 WIB

Tahun Baru Tanpa Kembang Api

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:43 WIB

Sejarah Tahun Baru Islam, Waktunya Pejabat Hijrah

Selasa, 16 Juni 2026 | 08:25 WIB

Pesan Profetik Film Jangan Buang Ibu

Senin, 15 Juni 2026 | 07:33 WIB

Amar Brkic, Garuda Muda dari Frankfurt

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:57 WIB
X