Bila pasar menentukan nasib precariat, algoritma menentukan nasib DVC.
Pendapatan, peluang kerja, visibilitas, reputasi, bahkan keberlangsungan pekerjaan dapat berubah karena keputusan sistem digital yang tidak transparan.
Mereka sering tidak mengetahui mengapa pendapatan turun, mengapa akun dibatasi, atau mengapa peluang kerja menghilang.
Alasan kedua adalah identitas kolektif digital.
DVC tidak bekerja di ruang fisik yang sama. Mereka tersebar di ribuan lokasi berbeda. Namun mereka membentuk solidaritas melalui grup aplikasi, media sosial, dan komunitas daring.
Mereka mungkin tidak pernah bertemu, tetapi menghadapi persoalan yang sama: perubahan algoritma, ketidakpastian pendapatan, dan ketergantungan pada platform.
Kesamaan pengalaman itu berpotensi melahirkan identitas kelas baru.
Alasan ketiga adalah kerawanan harapan. Inilah aspek yang paling khas.
Banyak anggota DVC tidak merasa miskin secara permanen. Mereka hidup dengan harapan bahwa satu unggahan akan viral, satu rating akan meningkat, satu promosi platform akan datang, atau satu perubahan algoritma akan mengubah hidup mereka.
Harapan menjadi sumber energi sekaligus sumber kerentanan.
Ketika harapan terus diproduksi tetapi peluang nyata tetap terbatas, lahirlah ketegangan sosial yang berbeda dari proletariat maupun precariat.
Mereka bukan hanya rentan secara ekonomi. Mereka rentan secara psikologis.
Saya menulis gagasan ini bukan hanya sebagai pengamat sosial.
Selama lebih dari tiga dekade meneliti opini publik Indonesia, saya menyaksikan berbagai perubahan pusat kekuasaan.
Ketika saya masih mahasiswa, pusat kekuasaan relatif mudah dikenali. Kita tahu siapa pemilik perusahaan. Kita tahu siapa pemimpin organisasi. Kita tahu di mana keputusan dibuat.