Pertarungan terbesar abad ke-21 adalah perjuangan manusia untuk tetap menjadi tuan atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
Perubahan terbesar dibanding versi sebelumnya ada pada satu titik: DVC kini dibedakan secara sangat tegas dari Precariat melalui konsep “ketergantungan pada algoritma”, bukan sekadar ketidakpastian kerja.
Itu adalah fondasi teoritis yang paling berpotensi membuat konsep DVC bertahan dalam perdebatan akademik jangka panjang.
Barangkali suatu hari para sejarawan akan menulis bahwa abad ke-19 melahirkan proletariat, abad ke-20 melahirkan precariat, dan abad ke-21 melahirkan manusia yang hidup di bawah bayang-bayang algoritma.
Abad ke-19 memperjuangkan hak atas tenaga kerja. Abad ke-20 memperjuangkan hak atas kesejahteraan.
Abad ke-21 mungkin akan memperjuangkan hak yang lebih mendasar: hak manusia untuk tetap menjadi tuan atas teknologi yang diciptakannya sendiri.
Sebab ketika nasib manusia mulai ditentukan oleh algoritma, pertarungan terbesar zaman ini bukan lagi antara buruh dan pemilik modal, melainkan antara manusia dan sistem yang ia ciptakan sendiri.***
Referensi
- The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. Shoshana Zuboff. PublicAffairs. 2019.
- The Precariat: The New Dangerous Class. Guy Standing. Bloomsbury Academic. 2011.
- Free Labor: Producing Culture for the Digital Economy. Free Labor: Producing Culture for the Digital Economy. Tiziana Terranova. Social Text, Vol. 18, No. 2 (63). Duke University Press. 2000.
Artkel opini tersebut tidak mewakili pandangan redaksi
Artikel Terkait
Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Menggelar NGL Batch III, Siapkan Mahasiswa Untuk Indonesia Emas 2045
Andri Mulyono, Bos Perusahaan Penyedia Sepeda Motor Listrik Untuk Program MBG Dijebloskan ke Tahanan
Iran Sepakat Damai dengan Amerika Serikat
Andri Mulyono Tersangka Kelima Skandal Megakorupsi di Badan Gizi Nasional
Swiss Memuji Pakistan Sambil Menawarkan Diri Menjadi Tuan Rumah Penandatangan Perjanjian Damai Iran-Amerika