Kini saya melihat generasi muda yang hidup dalam dunia yang berbeda.
Banyak di antara mereka bekerja keras sepanjang hari tanpa pernah bertemu atasan mereka.
Mereka bekerja untuk aplikasi. Mereka menunggu notifikasi.
Mereka mengejar rating.
Mereka menyesuaikan hidup dengan perubahan algoritma yang tidak pernah mereka ikut merancang.
Saya juga melihat perubahan cara manusia membentuk kesadaran sosial.
Dahulu massa berkumpul di lapangan. Kini mereka berkumpul di layar. Dahulu organisasi membentuk solidaritas. Kini solidaritas lahir dari grup digital.
Oleh karena itu, saya merasa perlu mengajukan pertanyaan akademik ini.
Jangan-jangan kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perubahan teknologi.
Jangan-jangan kita sedang menyaksikan kelahiran perlahan sebuah kelas sosial baru yang akan memberi warna pada abad ke-21.
Kapitalisme algoritma telah mengubah sumber kekuasaan ekonomi, cara kerja manusia, dan bentuk kerentanan sosial.
Proletariat lahir dari revolusi industri. Precariat lahir dari fleksibilitas pasar kerja global.
Kini DVC lahir dari ketergantungan manusia pada platform dan algoritma.
Apakah DVC akan diakui sebagai kelas sosial baru oleh dunia akademik masih memerlukan riset, debat, dan pengujian empiris yang panjang.
Namun tanda-tandanya semakin jelas. Ketergantungan pada algoritma, identitas kolektif digital, dan kerawanan harapan membedakan mereka dari kelas-kelas yang telah dikenal sebelumnya.
Artikel Terkait
Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Menggelar NGL Batch III, Siapkan Mahasiswa Untuk Indonesia Emas 2045
Andri Mulyono, Bos Perusahaan Penyedia Sepeda Motor Listrik Untuk Program MBG Dijebloskan ke Tahanan
Iran Sepakat Damai dengan Amerika Serikat
Andri Mulyono Tersangka Kelima Skandal Megakorupsi di Badan Gizi Nasional
Swiss Memuji Pakistan Sambil Menawarkan Diri Menjadi Tuan Rumah Penandatangan Perjanjian Damai Iran-Amerika