Oleh Denny JA
WartaPesona.com - Suatu malam, seorang pengemudi ojek online berhenti di pinggir jalan. Ia baru saja menerima pemberitahuan dari aplikasi yang selama ini menjadi sumber nafkah keluarganya.
Tidak ada kecelakaan. Tidak ada pelanggaran berat. Tidak ada surat pemecatan.
Hanya sebuah notifikasi singkat: akunnya dinonaktifkan sementara karena sistem mendeteksi aktivitas yang dianggap tidak sesuai.
Dalam hitungan detik, penghasilannya hilang. Istrinya sedang menunggu uang belanja. Anak pertamanya menunggu biaya sekolah.
Ia tidak tahu kepada siapa harus mengadu.
Yang memutuskan nasibnya bukan manusia, melainkan sebuah algoritma yang tak pernah bisa ia temui.
Dunia sedang memasuki tahap baru perkembangan kapitalisme. Saya menyebutnya kapitalisme algoritma.
Baca Juga: Republik Islam Iran Jalankan Prinsip Kehati-hatian Terhadap Amerika Serikat
Kapitalisme ini berbeda dari kapitalisme industri abad ke-19 dan berbeda pula dari kapitalisme finansial yang mendominasi akhir abad ke-20.
Perbedaan pertama adalah pusat kekuasaan ekonomi sekarang ada di algoritma.
Dalam kapitalisme industri, mesin produksi menjadi sumber utama keuntungan. Dalam kapitalisme finansial, modal dan jaringan keuangan menjadi sumber dominasi.
Dalam kapitalisme algoritma, data dan algoritma menjadi alat produksi yang paling menentukan.
Artikel Terkait
Gerakan Mahasiswa Hidayatullah Menggelar NGL Batch III, Siapkan Mahasiswa Untuk Indonesia Emas 2045
Andri Mulyono, Bos Perusahaan Penyedia Sepeda Motor Listrik Untuk Program MBG Dijebloskan ke Tahanan
Iran Sepakat Damai dengan Amerika Serikat
Andri Mulyono Tersangka Kelima Skandal Megakorupsi di Badan Gizi Nasional
Swiss Memuji Pakistan Sambil Menawarkan Diri Menjadi Tuan Rumah Penandatangan Perjanjian Damai Iran-Amerika