Kedua, The Precariat: The New Dangerous Class karya Guy Standing (2011).
Standing menggambarkan kelompok pekerja yang hidup tanpa kepastian pekerjaan, identitas profesional, dan perlindungan sosial yang memadai.
Namun perkembangan ekonomi digital memperlihatkan bentuk kerentanan tambahan yang belum menjadi fokus utama Standing: ketergantungan terhadap algoritma yang menentukan akses terhadap pekerjaan dan penghasilan.
Di luar Zuboff dan Standing, gagasan ini juga beresonansi dengan perdebatan tentang platform capitalism yang dikembangkan Nick Srnicek, perbudakan data digital yang diulas Antonio Casilli, serta diskursus kerja digital Tiziana Terranova di era ekonomi informasi.
Di berbagai kota di Indonesia, kita menyaksikan benturan sunyi antara fleksibilitas yang dijanjikan platform dan realitas kerja tanpa perlindungan.
Narasi kebebasan jam kerja sering menutupi jam kerja yang justru semakin panjang.
Oleh karena itu, saya mengusulkan istilah Digitally Vulnerable Class atau DVC, yang dalam bahasa Indonesia dapat disebut Pekerja Digital yang Rentan.
DVC adalah kelompok pekerja yang menggantungkan akses kerja dan pendapatan pada platform digital, tanpa kendali atas algoritma, data, dan aturan yang mengatur mereka, sehingga rentan terhadap perubahan teknis maupun kebijakan sepihak.
Data Kementerian Ketenagakerjaan yang dikutip berbagai media menunjukkan jumlah pekerja ekonomi gig di Indonesia mencapai sekitar 4 juta orang pada 2023.
Laporan Antara dan berbagai kajian kebijakan memperkirakan total pekerja berbasis platform dan kerja lepas digital, termasuk pengemudi transportasi online, kurir, serta freelancer digital, telah menembus puluhan juta orang dalam satu dekade terakhir.
Ini menguatkan bahwa ledakan pekerja platform di sektor transportasi, pengantaran makanan, dan jasa digital bukan lagi gejala pinggiran, melainkan arus utama struktur ketenagakerjaan Indonesia abad ke-21.
Tidak semua pekerja digital otomatis termasuk DVC. Seorang programmer dengan kontrak tetap, perlindungan sosial memadai, dan posisi tawar tinggi terhadap perusahaan ada dalam konstelasi berbeda dibanding pengemudi, kurir, atau kreator konten yang akses kerja dan pendapatannya sepenuhnya dimediasi algoritma.
Saya belum mengklaim bahwa DVC telah menjadi kelas sosial baru yang mapan. Namun bukti-bukti menunjukkan bahwa ia adalah cikal bakal lahirnya kelas baru.
Alasan pertama adalah kerentanan algoritmik. Proletariat bergantung pada pemilik pabrik. Precariat bergantung pada pasar kerja yang tidak stabil.
DVC bergantung pada algoritma, pada platform, pada aplikasi. Inilah pembeda yang paling mendasar.